Buleleng –
Made Darmini bersama dua temannya berangkat dari Desa Musi menuju Bukit Batu Kursi, Desa Pemuteran, Buleleng, Bali, pada pukul 05.30 Wita. Perempuan berusia 29 tahun itu tak lupa membawa dua buah plakat, satu plakat bertulisan ‘Bukit Batu Kursi 400 MDPL, Lumayan buat Kaki Geter’ dan plakat lainnya bertulisan ‘Happy Birthday Made Darmini, Sampai Bertemu di MDPL Berikutnya’.
Perempuan bersepatu abu-abu dan berkaus merah itu lalu berfoto sembari membawa plakat tersebut di Bukit Batu Kursi. Latar fotonya laut di Teluk Pemuteran. “Saya besok ulang tahun, sengaja ambil foto di sini karena besok harus kerja,” ujar perempuan bercelana hitam tersebut kepada, Selasa (17/2/2026).
Darmini sudah beberapa kali mendaki Bukit Batu Kursi untuk sembahyang saat Galungan dan Kuningan. Namun, bukit dengan ketinggan sekitar 800 MDPL ini tetap menarik untuk didaki oleh perempuan yang bekerja di Denpasar ini. “View-nya langsung laut yang dikelilingi bukit,” tutur perempuan berusia 29 tahun itu.
berkesempatan melali (pelesiran) ke Bukit Batu Kursi. Saya berangkat dari penginapan di Desa Pemuteran pada pukul 05.50 Wita. Lima menit kemudian, saya tiba di tempat parkir.
Saat itu Desa Pemuteran masih terlelap. Temaram lampu dari rumah-rumah penduduk masih terlihat dari punggung Bukit Batu Kursi.
Saya perlu melalui ratusan anak tangga untuk mendaki Bukit Batu Kursi. detikers yang ingin melali ke sini tak perlu khawatir karena tangga yang dilalui berupa coran. Lebarnya tangga pun cukup untuk orang berpapasan.
Lampu-lampu di sejumlah titik di jalur pendakian juga menyala. Hal itu sangat membantu saat mendaki dalam gelap. Pegangan atau pembatas dari besi yang terpasang di beberapa titik memudahkan pengunjung berpengangan saat mendaki dan mencegah jatuh dari jalur treking.
Saya sempat berhenti istirahat di sebuah gazebo sebelum mencapai Pura Batu Kursi. Tempat ibadah tersebut terletak atas Bukit Batu Kursi.
Gelap mulai berganti terang. Saya dapat melihat ilalang dan sejumlah tanaman hijau memenuhi Bukit Batu Kursi. Mata rasanya tak ingin berkedip melihat beraneka tumbuhan hijau menjalari punggung jajaran bukit berbatu. Perbukitan juga tampak seperti ‘mengurung’ Teluk Pemuteran.
Rasa lelah mendaki sepadan dengan pemandangan yang disuguhkan di Bukit Batu Kursi. Dari atas rumah-rumah penduduk terlihat kecil. Laut di Teluk Pemuteran terhampar dan kapal-kapal nelayan terlihat meski cuaca mendung saat itu. Jalur mendaki tampak seperti merayapi bukit dan diapit oleh pohon serta rerumputan hijau.
Pengunjung pun mulai ramai di Bukit Batu Kursi seiring fajar menyingsing. Ada yang berolahraga, ada pula yang ingin menikmati keindahan Bukit Batu Kursi lalu berfoto dengan latar bukit hijau maupun Teluk Pemuteran. Terdapat sejumlah spot foto yang estetik di sepanjang jalur treking.
Sebelum turun, saya menyempatkan untuk mendaki sedikit lagi mencapai Pura Batu Kursi. Candi bentar menjadi pintu masuk Pura Batu Kursi. Pelinggih dan bale bengong juga terdapat di muka pura tersebut. Sepasang kain poleng (kain bermotif hitam dan putih) berkibar di depan pintu masuk tembat sembahyang itu.
Jro Bendesa Pemuteran, I Ketut Wirdika, mengatakan Pura Batu Kursi mulai terkenal dan didatangi banyak orang seusai sesepuh dari Puri Pemecutan seusai mendapat pawisik (bisikan gaib) tentang Batu Mekorsi. Setelah itu, banyak orang spiritual dari berbagai wilayah datang ke Pura Batu Kursi, terutama dari Pulau Bali dan Jawa.
“Dari situlah semakin banyak orang yang datang untuk memohon jabatan, kemungkinan saja ada yang terjadi, dan dari situlah terkenal Pura Batu Kursi,” ujar Wirdika kepada Made Wijaya Kusuma dari beberapa waktu lalu.
Wirdika menjelaskan, orang yang tangkil (sembahyang) ke Pura Batu Kursi sebenarnya tidak serta-merta memohon jabatan. Namun, lebih kepada melancarkan kedudukan atau pekerjaan yang ditekuni.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Segara Giri, I Ketut Sutrawan Selamet, menerangkan Pokdarwis dan warga setempat menanami Bukit Kursi dengan sejumlah pohon seperti spathodea, bungur, dan flamboyan sejak 2017. Tujuannya agar bukit berbatu tersebut tidak tandus. “Pohon-pohon itu juga bisa jadi peneduh bagi warga yang ingin sembahyang di Pura Batu Kursi,” tuturnya kepada, Jumat (27/2/2026).
Wawan Ode, sapaan Ketut Sutarwan, menjelaskan Pokdarwis juga menaruh tangki, pipa, dan pompa. Air yang dialirkan dari bawah digunakan untuk menyiram tanaman di Bukit Batu Kursi. “Kami siram sekitar jam enam sore,” tutur pria berusia 44 tahun itu.
Adapun untuk mendaki Bukit Batu Kursi hanya dikenai donasi. Pengunjung bisa memberikan sumbangan seikhlasnya. detikers juga bisa membeli makanan dan minuman di warung-warung setempat sebelum mendaki. Selain itu, terdapat toilet di atas bukit yang bisa digunakan oleh pengunjung.
Puas mendaki dan berfoto, saya pun turun menuju tempat parkir motor. Tak terasa kaus pun basah oleh keringat. Tiba di penginapan sepiring nasi kuning dengan aneka lauk tandas untuk mengobati rasa lapar akibat mendaki Bukit Batu Kursi.
