Lombok Tengah –
Warga Lombok kecewa dengan minimnya hasil tangkapan nyale (cacing laut) pada malam puncak Bau Nyale 2026. Mereka menilai keputusan yang dihasilkan dari sangkep warige terkait penentuan puncak pelaksanaan tradisi Bau Nyale meleset.
Diketahui, sangkep warige merupakan musyawarah adat tertinggi suku Sasak dalam penentuan puncak Bau Nyale. Sangkep warige melibatkan pemangku adat, budayawan, hingga ulama setempat.
Pantauan pada Minggu (8/2/2026) pagi, puluhan ribu warga Lombok dari berbagai wilayah tumpah ruah di sejumlah pantai yang lokasi perhelatan Bau Nyale. Salah satunya di Pantai Tampah, Desa Mekarsari, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah.
Warga bahkan sudah mulai bersiap-siap turun ke pantai sekitar pukul 03.30 Wita. Meski begitu, tak banyak nyale yang mereka dapatkan hari ini.
“Hari ini saya bersama teman-teman datang ke sini (Pantai Tampah) ikut Bau Nyale, tapi tidak ada hasil,” kata salah satu warga, Lalu Maulidi Arjuna, Minggu pagi.
Pria asal Praya Barat itu menuturkan hasil tangkapan pada hari puncak Bau Nyale berbanding terbalik dengan hari sebelumnya. Arjuna menyebut saat H-1 puncak Bau Nyale justru hasil nyale yang didapat melimpah.
“Tidak seperti kemarin, hampir seluruh warga dapat. Tapi malah pada hari puncaknya kami nggak dapat,” ujar Arjuna.
“Tadi malam padahal hujan lebat, hampir tak ada redanya. Makanya kami kira akan dapat banyak nyale hari ini,” imbuhnya.
Husnu, warga lainnya, setali tiga uang. Menurut dia, jumlah tangkapan seharusnya lebih melimpah pada puncak Bau Nyale. Husnu pun kecewa lantaran puncak Bau Nyale tahun ini yang sama dengan tahun lalu.
“Malam puncak ini adalah malam yang kita tunggu-tunggu karena biasanya akan paling banyak,” kata Husnu.
Sementara itu, Usman, warga Lombok Tengah, menilai terdapat kesalahan pada penentuan hari puncak Bau Nyale yang dilakukan melalui sangkep warige. Menurut dia, puncak Bau Nyale seharusnya sudah jatuh pada Sabtu (7/2).
“Kalau kami sebagai warga pesisir melihat ya puncak Bau Nyale seharusnya kemarin. Karena nyale ini sudah ditangkap sejak tiga hari yang lalu. Banyak nelayan yang dapat dan banyak yang jual ke pasar,” ujar Usman.
Hasil Sangkep Warige
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), bersama para tokoh adat menggelar tradisi sangkep warige untuk menentukan malam puncak tradisi Bau Nyale. Seluruh peserta sepakat bahwa puncak festival Bau Nyale 2026 jatuh pada 7-8 Februari.
“Keputusan itu berdasarkan suara terbanyak. Bahwa dasar dari perhitungan ini adalah menentukan bulan ini dulu, bulan berapa. Sekarang ini adalah bulan delapan menurut Kalender Sasak, maka hitungannya adalah dua bulan ke depan,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Lalu Sungkul, yang memimpin sangkep warige di Sirkuit Mandalika, 4 Desember 2025.
Diketahui, Bau Nyale dilakukan setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan tradisional Sasak. Bau Nyale berkaitan dengan kisah Putri Mandalika, seorang putri berparas cantik dan berbudi luhur yang diperebutkan oleh banyak pangeran dari berbagai kerajaan.
Konon, Sang Putri tidak menerima berbagai pinangan para pangeran tersebut karena jika ia memilih salah satunya, bencana besar akan datang. Dia kemudian membuang dirinya ke tengah laut dan menjelma menjadi nyale.
Kata Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak, yakni ‘bau’ berarti menangkap dan ‘nyale’ berarti cacing laut. Bau Nyale telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Lombok dalam menangkap cacing laut sebagai bentuk penghormatan terhadap pengorbanan Putri Mandalika.
