Menyusuri Munduk Duk Badung, Kampung Kebun yang Gelap Tanpa Listrik

Posted on

Kawasan Munduk Duk di Banjar Adat Tiyingan, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, mendadak jadi sorotan. Di balik perkebunan hijau di kaki Puncak Mangu, Gunung Catur, puluhan warga hidup dalam keterbatasan jaringan listrik.

Mereka tetap bertahan di tengah hutan lindung yang asri, mengandalkan kebun dan ternak untuk hidup. Namun, sejak lama kebutuhan listrik masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi warga yang memilih bermukim sementara di pondok-pondok kebunnya.

Munduk Duk merupakan kawasan tegalan di ujung utara Kabupaten Badung, berbatasan dengan Tabanan. Dari pusat Banjar Adat Tiyingan, jaraknya sekitar 7 kilometer.

Lebih dari 40 warga banjar sudah membangun pondok di lahan mereka. Wayan, salah seorang warga, menyebut pondok dibangun untuk mempermudah urusan kebun agar tak perlu bolak-balik ke rumah di pusat banjar.

“Rumah asli kami memang di pusat banjar, namanya Banjar Tiyingan. Kalau kami menyebutnya di sini memondok (membangun pondok),” ujar Wayan, Jumat (29/8/2025).

Menurutnya, pondok itu awalnya sekadar tempat berteduh saat hujan. Kini sebagian sudah menjadi rumah semi permanen. “Perlu listrik untuk ya sekedar cas HP, ngecas alat semprot,” sambungnya.

Meski akses jalan sudah ada, tiang listrik belum terpasang hingga Munduk Duk sejak 2001. Wayan menegaskan, bukan berarti warga Banjar Tiyingan sama sekali tak menikmati listrik.

“Kalau di pemukiman di banjar kami, semua sudah ada listrik. Yang di pondok ini memang belum ada tiang listrik sampai ke sini. Belakangan warga ingin jaringannya diperluas sampai kebun,” jelasnya.

Beberapa warga akhirnya berinisiatif menarik kabel listrik sendiri. Wirta, warga lainnya, mengatakan lima kepala keluarga mengeluarkan biaya hingga Rp 20 juta untuk menarik kabel sejauh 2-3 kilometer dari pemukiman terdekat.

“Kira-kira habis Rp 20 juta untuk bentang kabel saja sampai ke kebun. Sudah lama, waktu awal-awal, kami bertiga di pondok mengamprah agar ada jaringan ke sini, tapi belum bisa terpenuhi,” ungkap Wirta.

Menurut dia, kendala muncul karena jarak cukup jauh, jumlah penerima sedikit, dan biaya pengadaan tiang yang besar. “Akses jauh, sehingga secara biaya pengadaan tiang lebih besar daripada yang ngamprah listrik, karena sedikit warga saat itu, jadi belum bisa terpenuhi,” ujarnya.

Kelian Dinas Banjar Tiyingan, Ketut Sumarta, menegaskan Munduk Duk bukan kawasan pemukiman, melainkan perkebunan yang jauh dari pusat desa. Namun, ia memahami kebutuhan warga yang tinggal di pondok kebun.

“Listriknya diamprah untuk di kebun. Kalau di pemukiman, semua sudah dapat listrik, jaringannya ada. Artinya warga memohon supaya ada perluasan jaringan,” kata Sumarta.

Ia menyebut PLN sudah merespons. Tiang listrik mulai dipasang, dan listrik ditargetkan bisa dialirkan paling lambat akhir September ini. Dari pendataan, ada 42 kepala keluarga yang sudah mengajukan permohonan.

“Dari pendataan itu, didapat 42 KK. Warga kami di pondok memang berharap akses listrik diperluas. Jaman sekarang, semua serba mesin, perlu cas HP, alat-alat, tidak mesti pulang ke banjar, ke rumah asli mereka, kan jauh. Cukup di pondok,” jelasnya.

Sumarta berharap sambungan listrik segera terwujud. “Jadinya warga lebih mudah kerja. Di tegalan rata-rata berkebun, sampai beternak,” pungkasnya.

Jaringan Listrik Belum Menjangkau

Harapan Warga dan Janji Listrik

Meski akses jalan sudah ada, tiang listrik belum terpasang hingga Munduk Duk sejak 2001. Wayan menegaskan, bukan berarti warga Banjar Tiyingan sama sekali tak menikmati listrik.

“Kalau di pemukiman di banjar kami, semua sudah ada listrik. Yang di pondok ini memang belum ada tiang listrik sampai ke sini. Belakangan warga ingin jaringannya diperluas sampai kebun,” jelasnya.

Beberapa warga akhirnya berinisiatif menarik kabel listrik sendiri. Wirta, warga lainnya, mengatakan lima kepala keluarga mengeluarkan biaya hingga Rp 20 juta untuk menarik kabel sejauh 2-3 kilometer dari pemukiman terdekat.

“Kira-kira habis Rp 20 juta untuk bentang kabel saja sampai ke kebun. Sudah lama, waktu awal-awal, kami bertiga di pondok mengamprah agar ada jaringan ke sini, tapi belum bisa terpenuhi,” ungkap Wirta.

Menurut dia, kendala muncul karena jarak cukup jauh, jumlah penerima sedikit, dan biaya pengadaan tiang yang besar. “Akses jauh, sehingga secara biaya pengadaan tiang lebih besar daripada yang ngamprah listrik, karena sedikit warga saat itu, jadi belum bisa terpenuhi,” ujarnya.

Jaringan Listrik Belum Menjangkau

Kelian Dinas Banjar Tiyingan, Ketut Sumarta, menegaskan Munduk Duk bukan kawasan pemukiman, melainkan perkebunan yang jauh dari pusat desa. Namun, ia memahami kebutuhan warga yang tinggal di pondok kebun.

“Listriknya diamprah untuk di kebun. Kalau di pemukiman, semua sudah dapat listrik, jaringannya ada. Artinya warga memohon supaya ada perluasan jaringan,” kata Sumarta.

Ia menyebut PLN sudah merespons. Tiang listrik mulai dipasang, dan listrik ditargetkan bisa dialirkan paling lambat akhir September ini. Dari pendataan, ada 42 kepala keluarga yang sudah mengajukan permohonan.

“Dari pendataan itu, didapat 42 KK. Warga kami di pondok memang berharap akses listrik diperluas. Jaman sekarang, semua serba mesin, perlu cas HP, alat-alat, tidak mesti pulang ke banjar, ke rumah asli mereka, kan jauh. Cukup di pondok,” jelasnya.

Sumarta berharap sambungan listrik segera terwujud. “Jadinya warga lebih mudah kerja. Di tegalan rata-rata berkebun, sampai beternak,” pungkasnya.

Harapan Warga dan Janji Listrik