Manggarai Barat –
Realisasi investasi di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sepanjang 2025 mencapai Rp 1,8 triliun lebih. Realisasi investasi itu melonjak dua kali lipat dari tahun sebelumnya sebesar Rp 930 miliar lebih.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Manggarai Barat, Maria Imaculata Etris Babur, mengungkapkan terdapat 15 subsektor investasi di destinasi pariwisata Labuan Bajo. Menurutnya, investasi didominasi pada sektor hotel dan restoran mencapai Rp 1,6 triliun lebih.
“Capaian realisasi investasi Kabupaten Manggarai Barat tahun 2025 berdasarkan data LKPM (laporan kegiatan penanaman modal) sebesar Rp 1.883.114.093.532 dari 15 subsektor,” kata perempuan yang disapa Rice itu, Jumat (6/2/2026).
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Rice membeberkan lima sektor investasi teratas di Manggarai Barat, yakni hotel dan restoran (Rp 1,6 triliun lebih); jasa lainnya (Rp 93 miliar lebih); perumahan kawasan industri dan perkantoran (Rp 72 miliar lebih); transportasi, gudang, dan telekomunikasi (Rp 49 miliar lebih); perdagangan dan reparasi (Rp 13 miliar lebih)
Disusul konstruksi; industri mineral nonlogam; perikanan, kehutanan; istrik gas dan air; industri makanan; industri lainnya; tanaman pangan perkebunan dan peternakan; industri kayu; industri kendaraan bermotor; dan alat transportasi lain.
Rice menjelaskan terdapat 163 investor yang berinvestasi di hotel berbintang hingga penginapan dan 72 investor untuk restoran di Manggarai Barat. “Untuk tahun 2025, capaian realisasi investasi sektor pariwisata dari 163 perusahaan terdiri dari beberapa antara lain hotel bintang, hotel bintang tiga, hotel bintang empat, hotel bintang, hotel melati, apartemen hotel, penginapan remaja. Untuk restorannya dari 72 perusahaan,” kata Rice.
Investasi di Manggarai Barat pada 2025 didominasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 1,7 triliun lebih. Sedangkan, penanaman modal asing (PMA) hanya Rp 126 miliar lebih atau 6,7 persen.
PMA terbanyak dicatatkan oleh investor asal Italia sebesar Rp 38 miliar lebih. Disusul Singapura (Rp 24 miliar lebih), Malaysia (Rp 16 miliar lebih), Inggris (Rp 14 miliar lebih), dan Jepang (Rp 13 miliar lebih), dan beberapa negara lainnya. Realisasi investasi itu telah menyerap 1.340 tenaga kerja.
“Jumlah tenaga kerja dari 15 sektor sebanyak 1.340, dengan rincian TKA 54 dan TKI 1.286,” tandas Rice.
