Denpasar –
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kabarnya tidak senang dengan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru. Tak hanya Trump, senator senior AS dari Partai Republik juga mengecam penunjukan putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Dilansir dari pada Senin (9/3/2026), ketidaksukaan Trump terhadap Mojtaba Khamenei disampaikan oleh pembawa acara Fox News, Brian Kilmeade. Kilmeade mengungkapkan Trump tidak senang dengan pilihan Iran atas Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi negara yang baru.
“Saya tidak senang,” kata Kilmeade menirukan ucapan Trump kepada dirinya.
Trump sendiri belum berkomentar secara terbuka mengenai terpilihnya Mojtaba. Namun, Trump sempat menyatakan putra Khamenei itu sebagai orang yang tidak berpengaruh. Trump juga menegaskan bahwa pemimpin tertinggi baru Iran harus mendapatkan persetujuan dari AS.
“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump dilansir Al Arabiya.
Sementara itu, senator senior AS, Lindsey Graham, turut mengecam penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran. Dia menyebut Mojtaba akan bernasib sama seperti ayahnya.
“Saya meyakini hanya masalah waktu sebelum dia mengalami nasib yang sama seperti ayahnya,” kata Graham yang merupakan Senator South Carolina dalam pernyataan via media sosial X.
Graham diketahui telah sejak lama melobi serangan militer AS terhadap Iran. Laporan media AS, Wall Street Journal (WSJ), mengungkapkan Graham telah ‘melatih’ Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu terkait cara melobi Presiden AS Donald Trump untuk mengambil tindakan terhadap Iran.
Sosok Mojtaba Khamenei
Iran mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru negara tersebut pada Minggu (8/3) atau sepekan setelah kematian Ali Khamenei. Mojtaba Khamenei sendiri merupakan putra kedua dari Ali Khamenei.
Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei dipilih oleh Majelis Pakar Iran sebagai pemimpin tertinggi yang baru untuk negara tersebut. Mojtaba menggantikan ayahnya yang wafat dalam serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Majelis Pakar Iran beranggotakan 88 ulama senior. Salah satu anggota Majelis Pakar Iran, Mohsen Heidari Alekasir, mengatakan dalam sebuah video bahwa seorang kandidat telah dipilih berdasarkan arahan mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran haruslah “dibenci oleh musuh”.
“Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya,” ucap Alekasir dalam pernyataan yang disampaikan beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Mojtaba merupakan pilihan yang tidak dapat diterima baginya.
Diketahui, Mojtaba merupakan tokoh senior yang dekat dengan pasukan keamanan Iran dan kerajaan bisnis besar yang mereka kendalikan. Dia menentang para reformis yang berupaya menjalin hubungan dengan Barat, dalam upaya mereka untuk mengekang program nuklir Iran.
Mojtaba memiliki hubungan dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC). Hal itu memberikan pengaruh tambahan kepada Mojtaba di seluruh aparatur politik dan keamanan Iran.
Adapun, pemimpin tertinggi Iran memegang hak untuk mengambil keputusan akhir dalam urusan negara. Termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir Iran. Kekuatan Barat sendiri ingin mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir. Sementara itu, Iran berulang kali mengatakan program nuklir mereka hanya untuk tujuan sipil.
. Baca selengkapnya di sini!
