Dinkes Bali Waspadai Penularan Virus Nipah Lewat Babi

Posted on

Denpasar

Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali mulai mewaspadai potensi penyebaran virus Nipah. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menyebut virus ini berpotensi ditularkan melalui hewan, salah satunya babi.

“Dalam hal ini kalau kita lihat virus nipah ini sebenarnya sudah ada di kelelawar, kemudian dia juga bisa menginfeksi binatang lainnya,” kata Raka, Kamis (29/1/2026).

Ia menjelaskan, kelelawar merupakan inang alami virus Nipah. Sementara itu, hewan lain seperti babi dapat berperan sebagai host yang memungkinkan virus bereplikasi dan kemudian menularkannya kepada manusia.

“Kalau kita lihat kelelawar ini merupakan inangnya dan hewan lain seperti babi, itu merupakan host atau yang bisa mereplikasi virus ini sehingga bisa menularkan kepada manusia,” jelasnya.

Meski demikian, Raka mengatakan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah yang ditularkan melalui babi di Indonesia. Berdasarkan penelitian yang ada, kasus penularan virus Nipah melalui babi terakhir kali terjadi di Malaysia pada 1998-1999.

Raka menjelaskan virus Nipah tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan komplikasi serius, mulai dari radang paru hingga radang otak.

“Kalau Covid-19 mungkin lebih jarang menimbulkan komplikasi sampai ke radang otak. Kalau virus nipah ini kemungkinannya lebih besar,” ungkap Raka.

Berdasarkan data, angka kematian akibat virus Nipah berkisar antara 47 hingga 50 persen. Oleh karena itu, Raka mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi buah yang telah digigit kelelawar, mengingat virus ini hidup secara alami pada hewan nokturnal tersebut.

“Kemudian yang kedua tentu kita berkolaborasi dan bekerja sama di pintu masuk (Bali) karena sejauh ini kita belum dapat datanya (virus ini) ada di Indonesia,” sambung Raka.

Selain itu, ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi daging mentah. Para peternak babi diminta menggunakan alat pelindung diri saat melakukan aktivitas peternakan guna meminimalkan risiko penularan.