Flores Timur –
Dua kapal pelayaran rakyat (pelra) tradisional tenggelam di laut Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (9/3/2026). Dua kapal itu adalah Kapal Motor (KM) Tanjung Harapan (Klara Jaya) dan KM Purin Lewo.
“Kapal melakukan pelayaran (dari Pelabuhan Larantuka) ke Pelabuhan Tobilota untuk berlindung dari cuaca ekstrem. Sampai mendekati Tobilota, kapal kemasukan air dan mati mesin, kemudian terbalik,” ujar Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas II Larantuka, Desmon Saterdi Menno, di ruangan kerjanya.
Desmon menuturkan KM Tanjung Harapan awalnya menunggu penumpang di Pelabuhan Larantuka. Kapal kemudian berlayar pukul 09.00 Wita menuju Pelabuhan Tobilota untuk berlindung dari hujan dan angin.
Kapal berbobot 40 gross tonnage (GT) itu berlayar dengan membawa satu nakhoda, dua kru, serta dua motor. Namun, kapal tiba-tiba terbalik dan dievakuasi oleh polisi air dan rekan-rekan kapal lain. “Dua kru kapal selamat dan motor juga selamat. Kapalnya masih dicari hanyut ke laut,” terang Desmon.
Sementara KM Purin Lewo berlayar dari Jeti Pulau Solor ke Pelabuhan Laut Larantuka dengan memuat 20 penumpang. Kapal ini sempat mengalami mesin mati dan dievakuasi ke Pelabuhan TPI Larantuka. Namun, kapal kemudian terbalik dan tenggelam saat bersandar di sana. “Tidak ada korban jiwa,” terang Desmon.
Desmon mengungkapkan dua kapal motor yang tenggelam tidak memiliki surat persetujuan berlayar (SPB). Desmon mengklaim selama ini sudah menyosialisasikan agar memakai SPB. Namun, kapal tetep berlayar meski sertifikatnya mati.
Pelabuhan Larantuka saat ini menggunakan sistem buka tutup untuk pelayaran kapal. Pelayaran dapat dilanjutkan jika cuaca membalik. Sebaliknya, pelayaran dihentikan saat cuaca memburuk.
Pantauan di Pelabuhan Larantuka, angin kencang dan hujan terjadi di sana. Para petugas Pelabuhan Larantuka mengarahkan kapal agar berhati-hati saat mendarat di bibir dermaga.
