Bangli –
Bibit pohon kaliasem (Syzygium polycephalum) dan pohon majegau (Dysoxylum densiflorum) baru saja ditanam di Hutan Adat Giri Upawana, Banjar Linjong, Desa Tiga, Kecamatan Susut, Bangli. Dua spesies pohon langka di Bali itu ditanam sebagai upaya konservasi dan aset yang hanya boleh digunakan untuk membangun infrastruktur persembahyangan di pura.
“Hanya digunakan sebagai bangunan tempat suci (di pura),” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kencana Loka Desa Adat Linjong, Made Win, kepada, Minggu (22/2/2026).
Hutan Adat Giri Upawana baru saja diresmikan sebagai hutan wisata oleh Bupati Bangli Sang Nyoman Sedana Arta, Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangli Ketut Suastika, beberapa pejabat di tingkat kecamatan, dan para ketua kelompok kerja masyarakat di Desa Adat Linjong. Para perangkat desa juga berencana menggratiskan kunjungan ke hutan adat itu.
mampir ke Hutan Adat Giri Upawana yang terletak di sisi utara desa. Ada jalan yang disediakan bagi pengunjung di areal hutan seluas 70 are atau 0,7 hektare (Ha) itu.
Areal hutannya terbagi menjadi tujuh zona pohon di sisi kiri dan kanan jalan. Ada zona pohon bambu, zona pohon beringin, zona pohon dis, zona pohon kaliasem, zona pohon palem, zona pohon pakis ekor monyet atau dalam bahasa Bali disebut pohon lemputu, dan zona beberapa zona spesies pohon langka lain.
Beberapa bibit pohon di tiap zona itu ditanam semua pejabat dan kelompok masyarakat yang hadir saat peresmian. Sedana Arta dan Diar menanam bibit pohon beringin. Bibit pohon majegau ditanam Pokdarwis Dukuh Mesari, sedangkan bibit pohon kaliasem ditanam Camat Susut, I Putu Apriyanta.
Hutan Adat Giri Upawana hingga kini belum terlalu lebat. Selain masih banyak pepohonan yang masih berupa bibit, vegetasi masih didominasi pohon bambu yang posisi tanamnya tidak terlalu rapat.
“Paling nggak lima tahun lagi lebat itu hutan. Seiring bertumbuh jadi atraksi wisata, wisatawan yang datang dan hobinya tanam-menanam nanti akan kami sediakan (bibit pohon). Nanamnya, di hutan adat kami,” kata Win.
Win mengatakan dari semua jenis spesies flora langka itu, kaliasem dan majegau adalah yang paling langka sekaligus dianggap suci. Batang pohon kaliasem dan majegau dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pelinggih.
Sedangkan batang pohon majegau dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan arca di dalam pelinggih itu. Pohon majegau itu juga dimanfaatkan sebagai asepan atau asap untuk upakara.
“Pelinggih kalau terbuat dari pohon cempaka, harus ada kayu kaliasem. Jadi, di desa adat kami, pohon kaliasem itu wajib untuk pembuatan pelinggih. Memang tidak boleh dibuat bahan bangunan rumah pribadi atau yang lain, hanya untuk tempat suci saja,” tegas Win.
Win mengatakan kayu pohon kaliasem memiliki karakteristik serat kayu yang padat sehingga sangat cocok untuk sarana persembahyangan yang tahan lama. Begitu pula dengan kayu majegau.
Win mengatakan, banyak spesies pohon di lingkungan Desa Adat Linjong yang hampir punah atau hanya 13% dari lahan hutan adat seluas 90 are. Penyebabnya adalah pembukaan lahan untuk pertanian. Lahan pertanian seperti sawah, perlu paparan sinar matahari yang tinggi sehingga satu-satunya cara hanyalah membabat hutan.
Win berharap dengan pembukaan Hutan Adat Giri Upawan dapat menjadi wisata alam dengan atraksi yang berbeda dengan desa wisata lain di Bangli.
“Kalau Desa Penglipuran, itu desa hutan bambu. Kami berbeda. Rencana kami akan kerjasama dengan swasta untuk (pembangunan) kafe, restoran, dan penginapan,” tutur Win.
Sementara itu, Sedana Arta mengatakan Linjong akan dijadikan desa wisata ikonik berbasis komunitas. Masyarakat Linjong akan jadi pelaku utama agar manfaat ekonominya dirasakan langsung.
“Tentunya dengan tetap menjaga kelestarian hutan adat dan tradisi lokal sebagai prioritas,” kata Sedana Arta.
Sedana Arta mengatakan alam di desa adat Linjong punya potensi besar. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat Linjong hanya langkah awal menuju kesejahteraan mendatang.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
“Melalui konsep berbasis komunitas, saya optimis Desa Linjong akan menjadi destinasi wisata berkelanjutan yang mampu mensinergikan konservasi hutan adat dengan peningkatan ekonomi masyarakat lokal,” jelas Sedana Arta.
