Denpasar –
Universitas Udayana (Unud) merespons kebijakan pembatasan kuota mahasiswa baru (maba) S1 di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Unud menilai kebijakan tersebut sebagai upaya menjaga mutu pendidikan tinggi.
Rektor Unud I Ketut Sudarsana memandang pembatasan kuota maba S1 untuk PTN merupakan langkah untuk memastikan kualitas tetap terjaga.
“Terutama dalam memastikan rasio dosen dan mahasiswa tetap ideal serta layanan akademik berjalan optimal,” kata Sudarsana kepada, Kamis (19/2/2026).
Sudarsana menegaskan kebijakan tersebut tidak berdampak signifikan terhadap perencanaan internal Unud. Ia menyebut sejak awal Unud telah menetapkan kuota secara proporsional dan berbasis kapasitas riil institusi.
“Karena sejak awal kami menetapkan kuota secara proporsional dan berbasis kapasitas riil institusi,” sambung dia.
Selain itu, Sudarsana mengatakan Unud tidak melakukan penambahan kuota maba pada Tahun Akademik 2026. Penetapan daya tampung telah mengikuti ketentuan resmi panitia SNPMB 2026 sebagaimana tertuang dalam surat Nomor 586/A.U/SNPMB/XII/2025.
Sudarsana juga menyambut positif dorongan Kemendiktisaintek agar PTN-BH bertransformasi menjadi research university. Dalam RPAJP Unud, arah pengembangan kelembagaan juga diamanatkan menuju research university.
Secara kelembagaan, Sudarsana menjelaskan Unud memiliki fondasi yang kuat dengan 14 fakultas dan 1 pascasarjana serta 136 program studi.
“Ekosistem ini memungkinkan kolaborasi interdisipliner yang menjadi prasyarat utama penguatan universitas berbasis riset,” jelas Sudarsana.
Ia menambahkan, pengembangan riset di Unud diarahkan pada isu-isu strategis nasional dan global, termasuk keberlanjutan, ketahanan lingkungan, kesehatan, pariwisata berkelanjutan, energi, dan transformasi digital.
Dengan penguatan kapasitas akademik dan riset tersebut, Unud menyatakan siap bertransformasi dan berkontribusi sebagai research university yang unggul serta relevan bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan.
“Posisi geografis dan karakteristik Bali justru menjadi keunggulan komparatif kami dalam menghasilkan riset kontekstual yang berdampak,” tanda Sudarsana.
