Badung –
Sampah kiriman di Pantai Kuta dibersihkan setiap hari. Namun, keterbatasan pengangkutan ke tempat pembuangan akhir (TPA) membuat sampah masih menumpuk di sejumlah titik.
Asisten Manajer DTW Pantai Kuta, I Putu Gilang Bayu Sadra Putra, mengatakan sekitar 200 orang dikerahkan setiap hari untuk membersihkan kawasan Pantai Kuta. Meski jumlah petugas dinilai cukup, pengangkutan sampah belum bisa dilakukan setiap hari karena volume sampah yang besar.
“Sebenarnya cukup, cuma untuk pengangkutan yang sebenarnya kita ada kendala. Jadi tidak bisa langsung ketika langsung diangkut karena volume sampahnya yang lumayan banyak,” ujarnya saat ditemui di Pantai Kuta, Rabu (4/2/2026).
Ia menjelaskan, tenaga kebersihan tersebut terdiri atas sekitar 60 orang dari internal pengelola. Sementara dukungan dari Pemerintah Kabupaten Badung melalui dinas terkait mencapai 30 orang, serta bantuan dari TNI-Polri sekitar 100 personel.
Kendala utama terletak pada keterbatasan armada pengangkut. Gilang menyebut truk pengangkut sampah tidak mencukupi untuk melayani pengangkutan setiap hari. Akibatnya, sampah laut sementara ditempatkan di lokasi penampungan sementara di area Setra atas izin desa adat setempat.
“Jadi kita masih tempatkan di tempat penampungan sementara yaitu di area Setra. Khusus sampah laut ya. Jadi kita permohonan kepada desa adat untuk meminjaman tempat untuk penempatan sampah laut sementara,” jelasnya.
Menurut Gilang, dalam satu kali pengangkutan dibutuhkan sekitar 30 truk dengan kapasitas masing-masing sekitar lima meter kubik. Jumlah tersebut belum selalu tersedia, sehingga pengangkutan dilakukan secara bertahap.
Pantauan, Rabu pagi (4/1/2026), menunjukkan satu tumpukan sampah menggunung di salah satu titik Pantai Kuta. Tumpukan tersebut telah berada di lokasi sekitar satu pekan. Sebagian sampah sudah diangkut, namun belum sepenuhnya bersih dan kembali tertumpuk oleh sampah baru.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Gilang menjelaskan kondisi geografis Pantai Kuta yang menghadap ke barat dan berada di area cekungan membuat wilayah ini kerap menerima kiriman sampah laut, terutama saat musim angin barat. Ia berharap masyarakat dapat lebih diedukasi agar tidak membuang sampah ke sungai.
“Jadi karena posisi Pantai Kuta yang menghadap ke barat seperti ini ya mau nggak maulah, siap tidak siap pasti kita harus terima. Jadi yang perlu diedukasi ya masyarakat juga untuk tidak buang sampah sembarangan,” katanya.
Ia juga menanggapi keluhan masyarakat dan wisatawan yang menilai pengelola pantai tidak melakukan pembersihan. Menurutnya, pembersihan dilakukan rutin setiap pagi, namun sampah kiriman terus datang.
“Bukan tidak membersihkan, tapi ini sampah kita sudah bersihkan, besok datang lagi. Pasti kita harus bersih-bersih setiap hari. Cuman mereka yang tidak paham, mereka anggap kita tidak ada tindakan untuk bersih-bersih seperti itu,” tegasnya.
Terkait dampak terhadap kunjungan wisatawan, Gilang menilai tidak terlalu signifikan. Pasalnya, saat ini juga memasuki musim sepi kunjungan atau low season yang biasanya bertepatan dengan musim angin barat.
“Kalau efek pada kunjungan tidak terlalu signifikan. Karena sekarang juga di musim-musim ini sedang mengalami low season juga ya,” imbuhnya.
