Gianyar –
Sebanyak 13 pekerja migran Indonesia (PMI) asal Gianyar masih bekerja di Kuwait. Iran sebelumnya merudal Kuwait dengan menyasar pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di negara itu.
“Awalnya dua PMI. Sekarang nambah 11 orang PMI lagi asal Gianyar yang bekerja di sana,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Gianyar, I Gede Suardana, saat ditemui di kantornya, Kamis (5/3/2026).
Suardana mengatakan dua di antara 13 PMI itu bernama Sinta Dewi asal Desa Samplangan dan I Nyoman Yuliantari asal Desa Bonbiyu. Mereka bekerja di tempat spa dan restoran.
Dua warga Gianyar itu masih terikat kontrak meski negara di tempat mereka bekerja dirudal Iran. Kuwait juga hanya berstatus waspada 3 karena penyerangan dilakukan hanya pada pangkalan militer AS.
“Jadi, warga ini belum bisa pulang karena masih belum darurat dan masih terikat kontrak. Dokumen (visa dan lainnya) pasti masih ditahan perusahaan mereka,” terang Suardana.
Suardana mengatakan situasi waspada 3 tiga sejatinya tidak terlalu darurat. Hanya, masih ada kekhawatiran dari belasan warga Gianyar di negara produsen minyak terbesar itu.
Suardana mengimbau agar pekerja asal Gianyar di negara kawasan Timur Tengah yang terlibat konflik rutin berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Negara Indonesia (KBRI). Hingga kini, belum ada instruksi dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk memulangkan mereka.
“Saya suruh untuk terus berkomunikasi dengan pihak KBRI untuk memantau situasi. Kalau memang dipaksa meninggalkan daerah berkonflik itu, ya kami harus ikuti,” jelas Suardana.
Selain di Kuwait, sebanyak 16 orang pekerja asal Gianyar juga masih bekerja negara Timur Tengah lain, yakni Yordania, Emirat Arab, Oman, dan Siprus.
Suardana mengatakan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia saat ini sedang melakukan konsolidasi dan koordinasi. Hal itu dilakukan untuk mengetahui jumlah pasti warga asal Gianyar yang bekerja di negara kawasan Timur tengah.
“Karena kami nggak bisa langsung (berkomunikasi) dengan KBRI. Tetapi hingga kini belum ada imbauan pulang (ke Indonesia),” jelas Suardana.
Imbau Warga Tak Bekerja di Timur Tengah
Suardana mengimbau warga Gianyar agar tidak bekerja di kawasan Timur Tengah karena sedang berkonflik. Sejumlah dokumen perizinan pekerja migran asal Gianyar dengan tujuan ke negara timur tengah hingga kini masih ditunda.
Meski demikian, Suardana mengatakan, belum ada larangan bekerja di luar negeri hingga kini. Bahkan, larangan bekerja di negara kawasan timur tengah yang sedang berkonflik juga belum ada.
Beberapa perizinan warga Gianyar yang akan bekerja di negara perbatasan Timur Tengah, salah satunya di Turki, masih diizinkan. Meski begitu, Suardana meminta warga menunggu hingga perang berakhir ketimbang harus menanggung risiko terjebak di negara yang sedang berkonflik.
“Daripada kita kejebak di sana, susah lagi nanti. Sekarang kalau ada yang mengajukan permohonan (bekerja) di daerah konflik, kami pending (tunda) dahulu,” terang Suardana.
