Tangis keluarga korban pecah di kawasan Marina Waterfront Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (2/1/2026) malam. Ratusan warga membakar 1.000 lilin dan menggelar doa bersama untuk korban kapal pinisi Putri Sakinah yang tenggelam di Selat Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat.
Istri korban dan keluarga lainnya hadir dalam doa bersama tersebut. Sejak awal kegiatan, suasana haru menyelimuti lokasi doa dan bakar lilin.
Korban kapal tenggelam itu merupakan wisatawan asal Spanyol. Tiga korban hingga kini belum ditemukan, yakni pelatih tim B sepakbola wanita Valencia CF, Fernando Martin Carreras, serta dua anak laki-lakinya.
Satu putrinya ditemukan meninggal dunia pada Senin (29/12/2025). Sementara istri dan putri bungsunya selamat dalam insiden tersebut.
Kegiatan diawali dengan Doa Rosario bersama. Umat memanjatkan doa dan melantunkan lagu-lagu rohani bernuansa duka. Suasana semakin haru saat lagu-lagu tersebut dinyanyikan.
Tangis istri korban membuat banyak umat yang hadir ikut terharu. Sejumlah umat mendatanginya dan memeluknya, dengan air mata membasuh pipi.
Beberapa biarawati Katolik yang memeluknya terlihat membuat tanda salib di kening istri korban. Para biarawati tersebut juga tampak tak kuasa menahan air mata.
“Sungguh, saya tidak kuasa melihatnya. Sedih sekali,” ujar seorang pria yang menyaksikan momen istri korban menangis di pelukan umat lain. Pria tersebut juga terlihat menitikkan air mata.
Saat meninggalkan lokasi acara, sejumlah umat masih memeluk istri korban. Ia harus dibukakan jalan untuk bisa meninggalkan lokasi doa bersama tersebut.
Kegiatan doa bersama ini digelar oleh Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo. Sejumlah umat Islam juga terlihat hadir dalam acara doa bersama itu.
Tangis istri korban membuat banyak umat yang hadir ikut terharu. Sejumlah umat mendatanginya dan memeluknya, dengan air mata membasuh pipi.
Beberapa biarawati Katolik yang memeluknya terlihat membuat tanda salib di kening istri korban. Para biarawati tersebut juga tampak tak kuasa menahan air mata.
“Sungguh, saya tidak kuasa melihatnya. Sedih sekali,” ujar seorang pria yang menyaksikan momen istri korban menangis di pelukan umat lain. Pria tersebut juga terlihat menitikkan air mata.
Saat meninggalkan lokasi acara, sejumlah umat masih memeluk istri korban. Ia harus dibukakan jalan untuk bisa meninggalkan lokasi doa bersama tersebut.
Kegiatan doa bersama ini digelar oleh Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo. Sejumlah umat Islam juga terlihat hadir dalam acara doa bersama itu.
