Sumba Barat –
Kampung Prai Ijing di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), meraih penghargaan Sustainable Tourism Award dalam ajang ASEAN Tourism Awards (ATA) 2026 sebagai destinasi wisata berkelanjutan.
“Ya penghargaan soal produk desa berkelanjutan. Jadi kain tenun di Kampung Prai Ijing masuk nominasi,” ujar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumba Barat Semuel Dato Mesa kepada, Selasa (3/2/2026).
Semuel menjelaskan penghargaan tersebut diselenggarakan dalam rangkaian ASEAN Tourism Forum yang digelar di Provinsi Cebu, Filipina, Jumat (30/1/2026). Penghargaan itu diterima langsung oleh Semuel bersama Menteri Pariwisata Indonesia Widiyanti Putri Wardhana serta Kepala Desa Tebara Kampung Prai Ijing, Marthen Ragowino Bira.
“Jadi Menteri Pariwisata juga hadir karena UMKM dari Kampung Prai Ijing itu untuk kain tenun,” jelas Semuel.
Menurut Semuel, kain tenunan asal Kampung Adat Prai Ijing dinilai menjadi semangat baru bagi Pemerintah Kabupaten Sumba Barat untuk terus mengembangkan destinasi wisata adat lainnya agar mampu menarik minat kunjungan wisatawan.
“Jadi penghargaan itu ada beberapa kategori seperti kamar mandi bersih, lingkungan tanpa plastik, dan cara mengajarkan kelompok sadar wisata untuk mengelola destinasi pariwisata,” beber Semuel.
Pengembangan Destinasi Wisata Adat
Ia mengatakan Sumba Barat selama ini dikenal oleh wisatawan mancanegara karena kekayaan wisata alam, budaya, dan adat. Hal tersebut membuat Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumba Barat terus bekerja keras membenahi sejumlah destinasi wisata.
Salah satunya adalah Kampung Yaru Wora di Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Sumba Barat. Sebanyak 28 rumah adat di kampung tersebut ludes terbakar pada Jumat (5/12/2025). Padahal, Kampung Yaru Wora tengah dipersiapkan sebagai destinasi unggulan untuk Wonderful Indonesia Awards 2026 karena memiliki situs sejarah yang dinilai kompleks.
Dengan adanya kebakaran tersebut, pemerintah daerah harus memikirkan langkah lain dengan menyiapkan kampung adat serupa, khususnya yang masih menggunakan bahan tradisional dan menjalankan ritual adat, seperti Kampung Adat Ratenggaro dan kawasan sejenisnya.
“Itu yang kami coba menata menjadi kampung wisata atau desa wisata baru di wilayah pesisir selatan dalam rangka mendukung sektor pariwisata karena beberapa hotel yang ada di lokasi pengembangan wisata itu kebanyakan diminati oleh turis asal Eropa dan Amerika karena tertarik dengan budaya,” kata Semuel.
“Kami akan coba kembangkan sambil menunggu revitalisasi Kampung Yaru Wora,” sambungnya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Semuel mengakui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumba Barat saat ini menghadapi kendala anggaran untuk mendukung penyelenggaraan event adat dan budaya, termasuk pasola, akibat kebijakan efisiensi anggaran. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah belum dapat memberikan dukungan maksimal.
“Kami coba mencari donatur dan sponsor dari beberapa hotel, tapi sangat terbatas. Tetapi kami sedang berupaya untuk mendapat anggaran dari kementerian untuk pelaksanaan event yang besar,” pungkas Semuel.
