SAR Kapal Pinisi Diperpanjang, Basarnas Optimalkan Sonar di Selat Padar

Posted on

Operasi pencarian tiga korban tenggelamnya kapal pinisi Putri Sakinah di Selat Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), diperpanjang selama tiga hari hingga 4 Januari 2026. Perpanjangan dilakukan setelah pencarian selama tujuh hari belum membuahkan hasil.

Kepala Kantor Basarnas Maumere selaku SAR Mission Coordinator, Fathur Rahman, mengatakan perpanjangan operasi SAR diputuskan berdasarkan hasil evaluasi bersama seluruh unsur Tim SAR gabungan di Posko Operasi SAR Pelabuhan Marina Labuan Bajo, Kamis (1/1/2026) malam.

“Berdasarkan hasil evaluasi, Tim SAR gabungan akan melanjutkan dan memaksimalkan upaya pencarian selama tiga hari ke depan,” kata Fathur.

Dalam upaya lanjutan tersebut, Tim SAR gabungan akan mengoptimalkan penggunaan teknologi untuk membantu proses pencarian di perairan Selat Pulau Padar.

“Mengoptimalkan penggunaan teknologi karena kita sudah melaksanakan pencarian secara besar-besaran di hari ketujuh juga kita menurunkan berapa speed yang ada di Labuan Bajo untuk membantu proses pencarian,” ujar Fathur.

“Makanya teknologi ini yang kita gunakan untuk membaca di bawah laut karena kita tidak tahu seberapa kedalaman laut yang ada di Labuan Bajo,” lanjutnya.

Teknologi yang digunakan adalah sonar untuk mendeteksi objek di bawah laut hingga radius 200 meter. Sonar tersebut akan dimanfaatkan untuk memetakan kondisi dasar laut sekaligus membaca arah arus.

“Untuk besok kita putuskan dengan menggunakan sonar yang sudah disiapkan untuk melaksanakan pemetaan di bawah dasar laut dan juga membaca arah arus yang akan dilaksanakan bantuan dari ITB,” terang Fathur.

Sonar sebenarnya telah digunakan pada pencarian hari ketujuh, Kamis (1/1/2026), namun hasilnya masih nihil. Bantuan tambahan sonar telah disiapkan untuk mendukung operasi SAR selama tiga hari ke depan. Fathur menambahkan, area pencarian juga akan diperluas dan titik-titik pencarian masih akan dibahas lebih lanjut bersama unsur SAR lainnya.

Selain mengoptimalkan teknologi, Basarnas juga mengungkap dua hambatan utama dalam proses pencarian. Hambatan pertama adalah kondisi arus dan cuaca di perairan Selat Pulau Padar.

“Kita sudah sampaikan, satu, arus yang ada di dasarnya jalur antara Pulau Komodo dengan Pulau Padar itu memang arusnya cukup deras,” kata Fathur.

“Dan adanya perubahan-peruban cuaca, adanya perubahan-perubahan arus, baik itu arus pada saat pasang maupun arus pada saat arus surut. Itu yang menjadi kendala,” sambungnya.

Hambatan kedua adalah belum diketahuinya posisi pasti kapal pinisi Putri Sakinah saat tenggelam. Tim SAR gabungan telah melakukan penyisiran saat kondisi laut pasang dan surut, namun bangkai kapal hingga kini belum ditemukan.

“(Hambatan) kedua adalah terkait posisi tenggelamnya, apakah pada saat kapal itu tenggelam dibawa ke mana. Kita lihat pada saat itu pada saat pasang atau pada saat surut. Begitu kita melaksanakan pengecekan terlihat pada saat surut sudah laksanakan pengecekan tapi posisi kapal tersebut sampai sekarang masih kita cari,” jelasnya.

Terkait temuan sejumlah puing kapal, Fathur menjelaskan puing-puing tersebut diduga akibat kapal dihantam gelombang sebelum akhirnya terbawa arus permukaan ke beberapa titik.

“Kalau terkait puing-puing itu akibat dari hantaman gelombang yang terjadi dan membuang puing-puing tersebut ke titik pada saat arus permukaan yang membawa ke daerah tersebut,” tandas Fathur.

Adapun tiga korban yang hingga kini belum ditemukan yakni pelatih tim sepak bola Valencia Wanita B, Fernando Martin Carreras, serta dua anak laki-lakinya. Sementara satu putri Martin telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Senin (29/12/2025).