Daftar Isi
Denpasar –
Bulan Syaban 1477 Hijriah diprediksi akan jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Bulan penuh kemuliaan ini menjadi momen istimewa bagi seluruh Umat Islam untuk memperbanyak ibadah sebelum memasuki Ramadhan.
Di waktu ini, banyak umat Islam yang mempertanyakan, apakah boleh menjalankan ibadah puasa Senin Kamis digabung Nisfu Syaban?
Yuk, simak informasi selengkapnya!
Bolehkah Puasa Senin Kamis Digabung Puasa Nisfu Syaban?
Mengutip Baznaz, malam Nisfu Syaban adalah malam yang penuh berkah dan ampunan. Banyak umat Islam yang bertanya, apakah boleh puasa Senin Kamis di bulan Syaban tepat pada hari Nisfu Syaban? Jawabannya adalah boleh. Bahkan, para ulama menyarankan untuk memperbanyak ibadah pada malam Nisfu Syaban, termasuk puasa pada siangnya.
Puasa Senin Kamis yang bertepatan dengan Nisfu Syaban menjadi amalan yang sangat utama. Dengan demikian, apakah boleh puasa Senin Kamis di bulan Syaban tidak hanya sah, tetapi juga mendapatkan keutamaan yang berlipat ganda.
Niat Puasa Senin Kamis Digabung Nisfu Syaban?
Puasa Senin Kamis termasuk ibadah sunnah, begitu juga dengan puasa Nisfu Sya’ban. Oleh karena itu, bagi segenap pembaca yang ingin mendapatkan dua pahala puasa sunnah ini dalam satu kali puasa, maka cukup niatkan dua puasa tersebut bersamaan dalam hati.
Contoh:
“Saya niat puasa hari Senin (kamis) dan puasa Sya’ban sunnah karena Allah Ta’la.”
Atau bisa dengan lafaz berbahasa Arab berikut: Adapun niat puasa Nisfu Sya’ban yang digabung dengan puasa hari Kamis adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ(يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ) وَنِصْفِ شَعبَان سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu Shouma Yaumal khamis (yaumil isnain) wa Nisfi Sya’bana Sunnatan Lillaahi Ta’aalaa
Artinya: Saya niat puasa pada hari Kamis (hari Senin: jika kebetulan hari Senin) dan puasa Nisfu Sya’ban, sunah karena Allah Ta’aala.
Niat Puasa Syaban
Dinukil dari buku Meraih Surga dengan Puasa karya H Herdiansyah Achmad LC, berikut niat yang bisa dibaca untuk mengerjakan puasa di bulan Syaban:
نَوَيْتُ صَوْمَ الشَّهْرِ الشَّعْبَانِ سُنَّةَ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma-sy-syahri-sy-sya’bani sunnata-lillâhi ta’ala.
Artinya: “Saya berniat puasa pada bulan Syaban sunah karena Allah Ta’ala.”
Niat Puasa Syaban sekaligus Qadha Ramadhan
Bulan Syaban terletak tepat sebelum Ramadhan. Bulan ini dapat dimanfaatkan untuk membayar utang puasa atau qadha Ramadhan.
Baca niat puasa di bawah ini untuk mengerjakannya seperti dikutip dari Buku Tata Cara dan Tuntunan Segala Jenis Puasa” karya Nur Solikhin:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhaai fardhi ramadhaana lillahi ta’aalaa.
Artinya: “Aku niat puasa esok hari sebagai ganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”
Larangan Puasa Setelah Nisfu Syaban
Dikutip dari disebutkan dalam buku Panduan Praktis Ibadah Puasa, umat muslim tidak dianjurkan untuk mengerjakan puasa setelah pertengahan bulan Syaban. Sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah yang berbunyi:
إِذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا تَصُومُوا
Artinya: “Apabila telah memasuki pertengahan Sya’ban maka janganlah berpuasa sampai (datang) Ramadhan.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, dan Al-Baihaqi)
Larangan tersebut mungkin diberlakukan agar umat Muslim tetap memiliki energi dan tidak merasa lelah saat memasuki bulan Ramadhan. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa sebagian orang bisa menganggapnya sebagai tambahan dari bulan Ramadhan.
Anjuran itu sehubungan dengan larangan Rasulullah SAW:
لا تَقَدِّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمٍ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ، إِلا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْماً، فَلْيَصُمْهُ
Artinya: “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari (sebelum memasukinya), kecuali seorang yang terbiasa melakukan puasa maka teruskanlah puasanya.” (HR. Muslim)
