Manggarai Barat –
Sejumlah pelaku wisata dari berbagai asosiasi mengeluhkan penutupan total layanan kapal wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka mengadukan keluhan tersebut kepada DPRD Manggarai Barat.
Para pelaku usaha wisata mendesak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo agar segera membuka kembali layanan kapal wisata. Penutupan layanan kapal wisata lebih dari sebulan terakhir telah melumpuhkan industri pariwisata di destinasi superprioritas tersebut.
“Desakan kami atas nama asosiasi, urgensi sekarang adalah pariwisata tidak bisa mengikuti keinginan pribadinya Kepala KSOP yang melakukan penutupan,” kata Ketua DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Manggarai Barat, Aloysius Suhartim Karya, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Manggarai Barat, Jumat (30/1/2026).
Aloysius juga menyoroti KSOP dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terkait penutupan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo. Ia menilai cuaca di Labuan Bajo sudah membaik sehingga pelayaran kapal wisata seharusnya dibuka kembali.
Ia pun meminta agar perwakilan KSOP dan BMKG turut dihadirkan dalam RDP berikutnya. “Kami berpikir harus di tanggal 1 (Februari), rekomendasi kami salah satu harus dibuka (pelayaran kapal wisata) tanggal 1,” tegas Aloysius.
Aloysius mengatakan penutupan layanan kapal wisata di Labuan Bajo tidak bisa lagi diperpanjang terus menerus. Menurutnya, sudah banyak dampak ekonomi dari penutupan akses masuk Taman Nasional Komodo tersebut selama sebulan terakhir ini.
HPI juga mendorong operasional terbatas dan kondisional kapal wisata di Labuan Bajo. Menurut Aloysius, pelayaran dapat dipertimbangkan secara terbatas pada kondisi cuaca aktual yang relatif memungkinkan berdasarkan informasi cuaca maritim dan pengamatan lapangan.
Kondisi ini dapat dihentikan sewaktu-waktu sesuai dengan keputusan dan kewenangan instansi terkait. “Dalam situasi seperti ini, maka wilayah yang selama ini aman adalah Loh Buaya di Pulau Rinca. Karena, sesuai dengan pengamatan, pengalaman kami juga itu aman,” jelas Aloysius.
Ia juga meminta untuk mempertimbangkan rute dan daya tarik wisata tertentu. Pelayaran, dia berujar, dapat difokuskan pada rute dan daya tarik wisata tertentu yang masih memungkinkan beroperasi.
“Dengan mempertimbangkan karakteristik perairan dan pola perjalanan wisata yang telah berjalan selama ini,” ujar Aloysius.
Pihaknya juga merekomendasikan pembatasan destinasi tertentu pada kondisi cuaca spesifik. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, pada kondisi cuaca tertentu, aktivitas pelayaran masih dapat dilakukan ke sejumlah rute atau daya tarik wisata di kawasan TNK
Namun demikian, Aloysius menegaskan destinasi dengan karakter perairan yang lebih terbuka dan menantang seperti Pulau Padar, Pulau Komodo, tidak diperkenankan. “Pembatasan tetap perlu diberlakukan secara lebih ketat sesuai dengan pertimbangan keselamatan,” katanya.
Untuk itu, ia memberikan dua alternatif. Pertama, wisata reguler seperti trekking, snorkeling, dan island camping. Menurut Aloysius, site yang sangat layak untuk dibuka adalah Loh Buaya di Pulau Rinca, Kampung Rinca, Strawberry Rock, Pulau Kalong, Kelor, Menjerite, dan Gua Rangko
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Kedua, wisata selam di Pengah Kecil, Pulau Mawan, Police Corner, Siaba Besar, Siaba Kecil, Wainilu, dan Kelor. “Ini adalah dive spot, yang dikategori safe spot dengan berada pada central area. Mereka berada di tempat di tengah dan mereka safe,” terang Aloysius.
Perwakilan asosiasi wisata yang lain juga menyampaikan hal senada. Menindaklanjuti aspirasi pelaku pariwisata tersebut, DPRD Manggarai Barat menjadwalkan menggelar RDP lagi dengan melibatkan KSOP, BMKG, dan pelaku pariwisata.
Selain HPI, asosiasi wisata yang hadir dalam RDP itu adalah Asita, Askawi, Asset, Forkod, Fokal, P3Kom. Hadir pula Kepala Dinas Pariwisata Manggarai Barat Stefanus Jemsifori dan Kepala Dinas Perhubungan Manggarai Barat Adi Gunawan.
RDP itu dihadiri lengkap pimpinan DPRD Manggarai Barat. Yakni Ketua DPRD Manggarai Barat Benediktus Nurdin dan dua wakil ketua, Rikardus Jani dan Sewargading SJ Putera.
Diketahui, KSOP kembali memperpanjang penutupan total pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo hingga 1 Februari 2026. Penutupan pelayaran kapal wisata di Labuan Bajo sudah berlangsung sejak 26 Desember 2025 atau setelah kapal pinisi Putri Sakinah tenggelam di Selat Pulau Padar.
Kecelakaan kapal wisata itu menewaskan pelatih sepakbola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando, dan tiga anaknya. Setelah insiden tragis itu, kapal wisata di Labuan Bajo sempat diizinkan berlayar selama tiga hari pada 9-11 Januari lalu. Namun, pelayaran ditutup kembali mulai 12 Januari dan iperpanjang beberapa kali hingga 1 Februari mendatang.
