Jembrana –
Pasar Ramadhan Loloan Barat di Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, kembali menjadi primadona bagi warga yan berburu takjil dan hidangan berbuka puasa. Meski tetap ramai pengunjung, pedagang mengaku omzet penjualan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pantauan di lokasi pada Minggu (8/3/2026), puluhan pedagang takjil tampak memadati sepanjang Jalan Semangka, Lingkungan Terusan, Kelurahan Loloan Barat. Sejak pukul 16.00 Wita, kawasan menuju Kampung Muslim Loloan ini sudah mulai diserbu pengunjung.
Berbagai jenis kuliner ditawarkan, mulai dari aneka es yang menyegarkan, kolak, bubur, hingga beragam lauk-pauk. Namun, dari sekian banyak menu, Kue Kopyor tetap menjadi incaran utama yang selalu ludes dalam sekejap.
Jajanan manis khas Kampung Loloan yang dibungkus daun pisang ini memiliki tekstur lembut, sehingga sangat cocok untuk membatalkan puasa.
“Ada menu unik-unik dan hanya ada saat bulan suci, seperti jajanan kopyor. Sangat cocok untuk berbuka karena teksturnya yang lembut dan juga manis. Jadi incaran,” ujar salah seorang warga, Sahratul Fai’qoh (26).
Keunikan pasar ini bukan hanya soal makanannya, melainkan juga suasana toleransinya. Pengunjung yang datang tidak hanya dari kalangan umat muslim, tetapi juga warga nonmuslim yang antusias menikmati suasana Ramadhan.
Ni Komang Sariani (38), warga Kelurahan Lelateng, mengaku sangat terbantu dengan adanya pasar dadakan ini. Baginya, pasar takjil adalah solusi praktis saat pulang bekerja.
“Kalau pulang kerja biasanya bingung mau masak apa untuk makan malam. Kalau ada pedagang takjil itu pilihannya banyak. Dari lauk pauk hingga yang manis-manis juga tersedia,” ungkap Sari.
Keberadaan pasar ini juga membawa berkah bagi ekonomi warga lokal. Faisha (51) atau yang akrab disapa Pak Is, salah satu pedagang, menyebut seluruh pedagang di pasar ini merupakan warga asli Loloan.
Sistem penjualannya pun cukup unik, di mana warga sekitar yang memasak di rumah dapat menitipkan dagangannya di stan-stan yang tersedia.
Namun menurut Pak Is, Ramadhan tahun ini tak seramai tahun lalu. Pasalnya, omzet jualannya turun.
“Kami tidak masak semuanya sendiri, jadi ada yang titip. Kalau omzet, rata-rata sehari itu lebih dari Rp 5 juta. Kalau tahun lalu itu bisa sampai Rp 7-8 juta,” jelas Pak Is.
Menurut Pak Is, antusiasme pembeli tahun ini tetap tinggi dan konsisten sejak hari pertama puasa. “Alhamdulillah selalu ramai sama seperti tahun-tahun sebelumnya,” tutupnya.
