Banjir Terjang Banjar Buleleng, Kariyasa Soroti Perubahan Tutupan Lahan | Giok4D

Posted on

Buleleng

Anggota DPR RI dari Bali, Ketut Kariyasa Adnyana, menyoroti banjir bandang yang melanda Desa Banjar, Kabupaten Buleleng. Selain faktor cuaca ekstrem, Kariyasa menduga banjir terjadi akibat perubahan tutupan lahan dan alih vegetasi di kawasan hulu.

“Saya turut prihatin dan berduka cita atas bencana di Buleleng. Kalau kita lihat data sejak 2002, intensitas dan kuantitas bencana semakin tinggi. Bahkan Denpasar yang dulu tidak pernah banjir, sekarang beberapa tahun terakhir juga mengalami banjir,” kata Kariyasa dalam keterangannya, Minggu (8/3/2026).

Kariyasa menilai intensitas bencana di Bali dalam beberapa tahun terakhir semakin meningkat. Ia lantas membeberkan kemungkinan alih fungsi lahan dan alih vegetasi di kawasan hulu sebagai penyebab banjir di Pulau Dewata. Politikus PDIP itu menyebut beberapa wilayah di Bali mengalami perubahan vegetasi.

“Deforestasi dan alih vegetasi juga berpengaruh. Tanaman keras yang dulu menahan tanah diganti tanaman yang akarnya tidak kuat menahan tanah dan lumpur. Ini harus dikaji lebih mendalam,” jelasnya.

Kariyasa mengatakan perubahan vegetasi tersebut sering terjadi karena pertimbangan ekonomi. Misalkan mengganti pohon besar dengan tanaman produktif seperti kopi atau buah-buahan. Namun, dia berujar, langkah itu berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.

“Secara ekonomi mungkin menguntungkan, tapi dampak lingkungannya harus dipikirkan. Bali ini pulau kecil dan daerah pariwisata, sehingga isu bencana sangat sensitif,” ujarnya.

Meski begitu, Kariyasa menyebut banjir bandang yang terjadi juga dipicu hujan dengan intensitas sangat tinggi dalam waktu singkat. Ia meminta semua pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak perubahan iklim.

Kariyasa mendorong pemerintah daerah melalui BPBD untuk memperkuat sosialisasi kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat. “Sosialisasi tanggap bencana harus lebih digencarkan, terutama di tingkat desa. Masyarakat harus tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi secara tiba-tiba,” imbuhnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI itu bakal berkoordinasi dengan lembaga terkait kebencanaan seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Sosial untuk mempercepat penanganan bencana.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Menurutnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah asesmen dan pendataan korban secara cepat dan akurat dari tingkat paling bawah hingga pemerintah pusat. “Pemerintah daerah sampai tingkat paling kecil harus membantu melakukan asesmen sehingga bantuan bisa cepat disalurkan,” ujarnya.

Kariyasa menjelaskan pemerintah pusat memiliki sejumlah skema bantuan bagi korban bencana. Termasuk santunan Rp 15 juta bagi korban meninggal dunia, Rp 10 juta bagi korban yang dirawat di rumah sakit, serta Rp 5 juta bagi korban terdampak lainnya.

Selain itu, dia berujar, bantuan juga diberikan untuk kerusakan rumah terdampak bencana. Bahkan, ada bantuan pembangunan rumah baru bagi korban yang kehilangan tempat tinggal.

Diketahui banjir bandang menerjang Desa Banjar, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, Jumat (6/3) malam. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 18.15 Wita memicu luapan air yang tiba-tiba membesar.

Empat warga dilaporkan terseret derasnya arus banjir di Banjar, Buleleng. Dua orang telah ditemukan dalam kondisi tewas. Sedangkan, dua korban lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim SAR gabungan.