MDA Pastikan Malam Takbiran di Bali Tetap Diperbolehkan Saat Nyepi

Posted on

Denpasar

Ketua Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Ida Penglingsir Agung Putra Sukahet, memastikan malam takbiran bagi umat Islam di Bali tetap diperbolehkan meski bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Ia menegaskan takbiran menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah tidak akan mengurangi makna kesucian Nyepi.

Sukahet mengatakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali sudah menyepakati beberapa aturan saat malam takbiran di tengah perayaan Nyepi. Salah satunya dengan berjalan kaki menuju masjid/musala terdekat dengan jarak kurang lebih 500 meter.

Kemudian, takbiran di Bali saat Nyepi juga tanpa pengeras suara dengan waktu pelaksanaan tidak lebih dari pukul 23.00 Wita. Setelah itu, warga yang melaksanakan takbiran bisa kembali ke rumah dan tidak melakukan aktivitas di luar mengingat masih dalam perayaan Nyepi.

“Jadi sudah sungguh menjadi barometer toleransi dan kerukunan Bali ini untuk Indonesia,” ujar Sukahet seusai menghadiri Gelar Agung Pecalang Bali di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala, Renon, Denpasar, Sabtu (7/3/2026).

Sukahet mengungkapkan ada sekitar 10 ribu lebih pecalang di seluruh Bali yang akan berjaga mengamankan pelaksanaan Nyepi tahun ini. Ia berharap perayaan Nyepi maupun pelaksanaan malam takbiran berjalan tertib sebagai wujud keharmonisan antarumat beragama di Bali.

“Dengan begini, perayaan Rahina Agung Nyepi berdampingan dengan takbiran akan berjalan dengan baik dan aman,” jelas Sukahet yang juga Ketua FKUB Provinsi Bali.

Menurut Sukahet, FKUB Provinsi Bali sudah mengeluarkan surat edaran terkait pelaksanaan malam takbiran yang bersamaan dengan Nyepi. Surat tersebut diterbitkan bersama Gubernur Bali, Pangdam, Kapolda Bali, hingga tokoh-tokoh lainnya agar perayaan bisa berjalan tertib.

Masyarakat Bali, dia berujar, selama ini telah menunjukkan praktik toleransi yang kuat. Ia menyebut pelaksanaan Nyepi yang berdekatan dengan hari besar agama lain juga pernah terjadi pada momen Idulfitri tahun lalu.

“Nyepi berjalan tidak ternodai dengan acara takbiran, sama-sama jalan. Inilah kita hidup di Indonesia yang berdampingan, kemudian kita mesti menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945,” pungkasnya.

Sinergitas Pecalang dengan Polri-TNI

Kapolda Bali Irjen Daniel Adityajaya mengungkapkan pecalang merupakan garda terdepan dalam menjaga keamanan berbasis adat di Bali. Hal itu juga diatur melalui Peraturan Gubernur Bali Nomor 58 Tahun 2025 tentang Sistem Keamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat (Sipandu Beradat).

“Ini merupakan konsep yang bagus bagaimana sinergitas antara Polri dengan masyarakat, khususnya pecalang. Ini menyangkut kondusivitas wilayah Bali, termasuk dalam menghadapi Hari Raya Nyepi,” jelas Daniel di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon, Denpasar, Sabtu.

Lebih lanjut, ia menyebut pecalang menjadi elemen penting dalam memastikan berbagai kegiatan Adat di Bali agar berjalan aman dan tertib. Daniel menilai kolaborasi ini penting dilakukan agar keamanan di Bali tetap terjaga dengan baik.

“Kolaborasi ini sangat penting, pecalang menjadi salah satu unsur agar kegiatan berlangsung kondusif dan aman,” ungkapnya.

Komandan Korem (Danrem) 163/Wira Satya, Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, setali tiga uang. Ia memastikan jajarannya siap bersinergi dengan pecalang dalam menjaga keamanan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri.

“Kami siap bersinergi dengan pecalang, kepolisian serta seluruh komponen masyarakat sehingga Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri bisa berjalan aman, nyaman dan lancar,” ungkap Agung Hadisaputra.