Tabanan –
Puluhan lontar milik warga Desa Pupuan dikonservasi oleh Penyuluh Bahasa Bali Tabanan, Selasa (10/3/2026). Lontar yang dimiliki warga adalah warisan keluarga. Banyak lontar yang ditemukan rusak sedang hingga berat.
Koordinator Konservasi Naskah Tabanan, I Putu Darma Susila, mengatakan lontar yang dikonservasi berasal dari tujuh warga di Desa Pupuan. Kebanyakan lontar tersebut berisi tentang usadha (pengobatan), babad hingga kekawin (puisi kuno).
“Dari puluhan itu kondisinya cukup memprihatinkan, banyak yang rusak karena dimakan tikus dan rayap, serta lembap karena lama disimpan,” ujar Darma Susila.
Menurut Darma Susila, selain karena dirusak binatang, kerusakan lontar juga karena disimpan dalam waktu lama sehingga menjadi lembap dan kotor. Terlebih, wilayah Pupuan cenderung dingin.
“Dari hasil pendataan sementara ada beberapa lontar masih dalam proses identifikasi karena kondisinya rapuh. Bahkan, ada satu lontar yang kondisinya rapuh hingga tidak berani dibuka. Jika dipaksa dibuka, lontar bisa hancur seperti kayu lapuk,” tegas Darma Susila.
Proses konservasi ditargetkan selesai dalam waktu singkat meski sempat terkendala kondisi cuaca di wilayah Pupuan yang lembap.
Selain melakukan konservasi, Penyuluh Bahasa Bali Tabanan juga memberikan edukasi kepada para pemilik lontar mengenai cara merawat dan menyimpan lontar dengan benar. Menurut Darma Susila, selama ini sebagian pemilik hanya melakukan perawatan secara niskala melalui upacara. Perawatan secara skala atau fisik masih kurang.
