Larangan di Malam Nisfu Sya’ban yang Masih Sering Diabaikan

Posted on

Denpasar

Nisfu Sya’ban menjadi malam istimewa bagi umat Islam. Nisfu Sya’ban diyakini menjadi malam pengampunan dosa dan penuh rahmat.

Nisfu Sya’ban jatuh pada pertengah bulan Sya’ban, tepatnya pada 15 Hijriah. Nisfu Sya’ban pada 2026 dimulai dari Senin malam, tepatnya setelah magrib 2 Februari hingga terbit fajar pada 3 Februari.

Meski diyakini sebagai malam pengampunan dan penuh rahmat, ada pantangan-pantangan yang sering diabaikan. Alih-alih mendapatkan pahala berlipat ganda, beberapa kebiasaan berpotensi menyimpang dari aturan Islam.

Berikut sejumlah larangan dalam Nisfu Sya’ban yang sering diabaikan.

Larangan Kebiasaan Buruk

Sejumlah kebiasaan buruk menjadi larangan utama dalam Nisfu Sya’ban. Kebiasaan-kebiasaan ini sering kali diabaikan sehingga bisa menjadi penghalang untuk menerima ampunan dari Allah. Kebiasaan tersebut seperti syirik atau menyekutukan Allah, pendengki, orang yang suka mengadu domba, sombong, memutuskan tali silaturahmi, durhaka pada orang tua, dan pecandu minuman keras (miras).

Dilarang Berpuasa

Larangan berpuasa bertujuan sebagai pemisah dengan puasa wajib saat Ramadan. Selain itu, larangan puasa juga untuk menjaga stamina sebelum memasuki Ramadan dan menghindari hari syak (ragu-ragu). Namun, larangan ini dikecualikan untuk orang-orang yang terbiasa puasa Senin-Kamis, puasa Daud, ataupun puasa untuk qadha.

Bulan Sya’ban menjadi waktu terbaik untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Persiapan ini bisa dimulai dari memperbaiki ibadah, pola makan hingga manajemen waktu yang mungkin sebelumnya masih berantakan.

Dilarang Menyambut Nisfu Sya’ban Berlebihan

Tidak ada dalil yang shahih agar umat Islam melakukan perayaan khusus pada malam Nisfu Sya’ban, apalagi mengkhususkan ibadah tertentu atau amalan bid’ah yang bertentangan dengan anjuran dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat. Umat Islam hanya dianjurkan meningkatkan amalan baik sebagai penambah pahala.

Malam Nisfu Sya’ban sejatinya menjadi momentum untuk memperbaiki diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Menghindari kebiasaan buruk yang berpotensi menjadi penghalang ampunan, seperti yang sudah diuraikan di atas, bisa menjadi pengingat untuk kita untuk menjaga niat, akhlak, dan ketulusan hati dalam mendekatkan diri kepada Allah.