Denpasar –
Masyarakat di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki berbagai tradisi adat yang masih dilestarikan hingga kini. Salah satunya tradisi Witi Orin, yakni kegiatan memindahkan rumah dengan cara diangkat menggunakan tenaga manusia.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Tradisi ini dapat ditemui di Desa Talibura, Kabupaten Sikka, Flores, NTT, yang sarat akan makna gotong royong. Witi Orin sebagai kearifan lokal dilestarikan secara turun-temurun, khususnya oleh warga di wilayah pesisir yang memiliki rumah panggung dari kayu.
Simak serba-serbi di balik tradisi Witi Orin di Flores, NTT, seperti dirangkum berikut ini.
Bagaimana Sejarah Tradisi Witi Orin?
Tradisi Witi Orin lahir dari kebutuhan masyarakat Flores untuk memindahkan rumah yang rusak akibat faktor alam atau pemindahan wilayah pemukiman. Tradisi ini dilakukan warga di Kabupaten Sikkan sejak tahun 1970-an.
Adapun, proses pemindahan rumah dilakukan dengan hanya mengandalkan tenaga manusia. Tradisi ini mengajarkan nilai-nilai kebersamaan dan tanggung jawab sosial.
Hal ini juga dapat memperkuat rasa solidaritas dalam komunitas. Meski begitu, tradisi ini sudah sangat jarang dilakukan seiring dengan perkembangan zaman.
Bagaimana Proses Tradisi Witi Orin?
Proses Witi Orin biasanya dimulai dengan persiapan fisik dan ritual. Tradisi ini dibuka oleh perwakilan pemuka agama yang memimpin pembacaan doa agar kegiatan berjalan lancar dan penghuni rumah yang didoakan supaya mendapat keberkahan.
Seluruh kegiatan dilakukan secara bersama-sama, baik oleh warga pria maupun perempuan. Saat prosesi berlangsung, warga desa akan berdiri di seluruh tiang-tiang penyangga rumah.
Kemudian, secara serentak mereka saling bahu-membahu untuk mengangkat rumah yang dipindahkan dari lokasi lama ke lokasi yang baru sesuai permintaan tuan rumah.
Di akhir tradisi, tuan rumah biasanya menjamu warga yang terlibat dalam prosesi pemindahan rumah ini. Mereka menggelar makan bersama dan menyantap berbagai makanan lokal yang telah disajikan oleh tuan rumah.
