Manggarai Barat –
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menegaskan kapal pinisi Putri Sakinah yang tenggelam di Perairan Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 26 Desember 2025 malam, laik laut.
Sebab pinisi itu memiliki sertifikat keselamatan kapal, salah satu dokumen yang dipenuhi saat penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo. Kecelakaan kapal wisata itu menewaskan pelatih sepakbola wanita Valencia CF, Martin Carreras Fernando, dan tiga anaknya.
“Laiklaut karena kan sertifikatnya ada,” tegas Direktur Kesatuan Pengawasan Laut dan Pelayaran (KPLP) Kemenhub, Capt. Hendri Ginting, di sela kegiatan kampanye keselamatan pelayaran di Labuan Bajo, Kamis (12/2/2026).
Hendri menegaskan kapal Putri Sakinah sudah ratusan kali berlayar sebelum insiden tenggelam itu terjadi. “Jadi sekali lagi dan bisa lihat sudah berapa ratus kali dia bergerak,” kata Hendri.
Kecelakaan kapal itu, tegas Hendri, akibat cuaca buruk. Sebagus apapun kapal, ujar dia, bisa berisiko tenggelam jika terjadi cuaca buruk. “Accident ini karena ada cuaca yang masih kurang prediksi jadi secara umum pembenahan kita sudah banyak kapal ya sudah sangat bagus, yang tradisional pelan-pelan kita arahkan untuk lebih bai,” jelas dia.
“Kapal bagus pun kalau ombaknya terlalu besar risiko. Jadi sama dengan moda-moda lain kalau cuacanya terlalu besar kapalnya seukuran itu,” imbuh Hendri.
Karena itu, ujar dia, aktivitas pelayararan harus memerhatikan cuaca. Jangan paksakan diri berlayar jika cuaca tak mendukung. “Makanya kita bilang tolong lihat cuaca, kalau memang ombak tiga, dua meter itu jangan, tapi kalau dia kapal besar seperti kapal Pelni mau lima meter pun masih aman,” terang Hendri.
“Jadi ini semua membuktikan kalau cuaca besar dan mereka mengenali kapalnya dan mereka disiplin ya sebenarnya temen-temennya disiplin,” imbuh dia.
Soroti Prakiraan Cuaca BMKG
Bupati Manggarai Barat Edistasius Endi dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyoroti prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) terhadap perairan Labuan Bajo hingga Taman Nasional Komodo. Prakiraan cuaca BMKG disebut kerapkali tak menggambarkan kondisi sebenarnya perairan Taman Nasional Komodo.
Hal ini disebabkan pembagian zona perairan dan peralatan yang digunakan BMKG masih terbatas. Adapun prakiraan cuaca BMKG menjadi salah satu pertimbangan utama untuk buka tutup pelayararan kapal wisata di Labuan Bajo
“Terkait dengan keberadaan BMKG, yang ada itu baru mampu membaca secara detail kondisi cuaca di darat dan di udara. Yang di laut itu kita masih bergabung dengan yang ada di (BMKG Stasiun Kemaritiman) Tenau Kupang,” kata Edi Endi dalam sambutannya pada Kampanye Keselamatan Pelayaran yang digelar Kemenhub di Labuan Bajo, Kamis (12/2/2026) sore.
Perairan Taman Nasional Komodo saat ini masuk zona Selat Sape bagian Utara dan Selatan Sape bagian selatan. Kondisi di perairan ini menggambar kondisi perairan TN Komodo menurut prakiraan cuaca BMKG selama ini.
Edi Endi mengatakan rapat Forkompinda plus di Manggarai Barat pada 9 Februari 2026 salah satunya merekomendasikan agar ada BMKG tersendiri di Labuan Bajo.
“Besar harapan kami dan ini bagian dari rekomendasi rapat pimpinan berkenan supaya peralatan, zona untuk sektor bahari yang ada di Labuan Bajo, Manggarai Barat ini berkenan supaya tersendiri,” ujar Edi Endi.
“Rapat juga memutuskan menugaskan bupati Manggarai Barat untuk berkirim surat ke Kantor pusat dan saya bilang siap,” lanjut dia.
Ketua DPW Partai NasDem Provinsi NTT itu berharap ke depannya prakiraan cuaca BMKG terhadap perairan Labuan Bajo hingga TN Komodo bisa menggambarkan kondisi yang sebenarnya di lapangan.
“Sehingga tidak ada lagi cerita bahwa yang dibaca gelombang secara keseluruhan itu landai ternyata kondisi eksisting-nya malah gelombang yang tinggi, tidak akan terjadi di tahun ini. Sekiranya permohonan kami permohonan rakyat yang ada di kabupaten ini dikabulkan,” tandas Edi Endi.
Hal yang sama disampaikan oleh Capt. Hendri Ginting. Ia mendorong BMKG membuat satu zona maritim yang khusus untuk perairan Labuan Bajo hingga TN Komodo.
“Terkait BMKG tadi kita sama-sama pastikan kalau bisa dibuat satu zona maritim yang ditempatkan di sini untuk lebih memastikan wilayah yang kita bisa lihat. Ini cuacanya tidak bisa secara global ini harus benar-benar fokus sehingga angin, arus itu mereka benar-benar prediksinya lebih presisi,” tegas Hendri.
