Kasus HIV/AIDS di Lombok Tengah Naik, Didominasi Seks Sesama Jenis - Giok4D

Posted on

Dinas Kesehatan (Dinkes) Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat kenaikan kasus HIV/AIDS pada 2025. Jika pada 2024 hanya ditemukan 16 kasus, kini jumlahnya meningkat menjadi 21 orang.

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

“HIV sampai dengan triwulan ketiga dibandingkan dengan 2024 memang kondisinya ada peningkatan sedikit kasusnya. Di tahun 2025 ini pada awal tahun jumlahnya itu sebanyak 21 kasus,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Lingkungan (P2KL) Dinkes Lombok Tengah, Lalu Putrawangsa, saat ditemui awak media, Kamis (28/8/2025) di Praya.

Menurutnya, mayoritas kasus baru berasal dari perilaku seksual sesama laki-laki (LSL) atau homoseksual. Selain itu, terdapat juga dari perilaku lain, seperti penyuntikan alat kelamin dan lainnya.

“Penyebab terjadinya HIV ini menular hubungan badan, menggunakan suntik tidak steril, dan beberapa hal lainnya. Beberapa waktu belakangan ini memang kondisi kami kasus baru,” bebernya.

Ia mengatakan saat ini kasus HIV sangat cepat dideteksi dengan adanya sistem Continuum of HIV/AIDS Care (CIA) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hal itu menyebabkan di manapun mereka memeriksa akan masuk ke dalam alamat Nomor Induk Kependudukan (NIK) masing-masing.

“Walaupun pemeriksaan di Lombok Barat, tetap dia masuk ke Lombok Tengah. Kasus ini memang kemarin ada penambahan dua dia periksa di RSUD Provinsi NTB,” imbuhnya.

Putra menyampaikan jika kasus HIV ini dapat disembuhkan. Hanya saja penyembuhan ini memerlukan waktu cukup lama bahkan sampai seumur hidup.

“Dia akan berobat seumur hidup karena anti bodinya yang diserang, jadi harus selalu diberikan obat,” tegasnya.

Di sisi lain, Dinkes mengalami kendala yakni adanya stigma negatif yang ditakuti oleh masyarakat untuk melaporkan dirinya sebagai pengidap HIV/AIDS. Namun, dengan adanya sistem CIA ini seluruh masyarakat cepat diketahui.

“Kasus HIV ini bisa diobati. Yang penting mereka mau periksa, tetapi kasus ini ketika ditemukan kasus positif banyak kasusnya yang lari karena takut dengan stigma,” pungkasnya.