Daftar Isi
Denpasar –
Doa qunut tidak hanya dibaca ketika salat Subuh saja, tetapi juga saat salat malam di Bulan Ramadhan. Pembacaan doa qunut ini dilakukan pada paruh kedua Bulan Ramadhan.
Pembacaan doa qunut tidak dilakukan saat salat Tarawih tetapi pada saat salat Witir. Dibacakan oleh imam setelah rukuk dan sebelum turun sujud.
Apakah pembacaan doa qunut ini memang dianjurkan? Kapan pembacaan doa qunut dilangsungkan?
Mengutip beberapa sumber, berikut ini penjelasan mengenai dalil, tanggal dan bacaan doa qunut saat salat Tarawih dan Witir. Simak selengkapnya!
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Dalil Doa Qunut Saat Salat Tarawih dan Witir
Mengutip dari laman NU online, Imam Nawawi berpandangan bahwa doa qunut disunnahkan pada separuh akhir Ramadhan. Pendapat ini mengacu pada pandangan madzhab Syafi’i yang mengkhususkan pembacaan doa qunut di separuh akhir Ramadhan.
Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab mengumpulkan umat muslim yang melakukan salat Tarawih sendirian, kemudian salat Tarawih secara berjamaah dipimpin oleh Ubay bin Ka’b. Khalifah Umar melakukan qunut di separuh kedua Ramadhan.
Lantas, dimulai sejak kapan separuh akhir Ramadan?
Tanggal Berapa Mulai Membaca Doa Qunut?
Berdasarkan riwayat di atas, doa qunut dibacakan pada separuh akhir Ramadhan dan mengacu pada hari dalam bulan Hijriah berjumlah 29/30 maka doa qunut dibaca sejak 16 Ramadan.
Pemerintah RI melalui Kemenag menetapkan 19 Februari 2026 sebagai hari pertama Ramadhan. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka 16 Ramadan akan jatuh pada 6 Maret 2026. Namun, doa qunut ini akan mulai dibaca pada 5 Maret 2026 karena permulaan hari dalam Hijriah dihitung sejak waktu Maghrib.
Bacaan Doa Qunut
Baca doa qunut pada salat Tarawih dan Witir tidak berbeda dengan qunut pada salat Subuh. Imam membacakan doa qunut dan makmum membacakan aamiin di sela-sela kalimat doa. Adapun bacaan doa qunut adalah sebagai berikut:
اَللّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لًنَا فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنَا شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Allahummahdinâ fî man hadait. Wa ‘âfinâ fî man ‘âfait. Wa tawallanâ fî man tawallait. Wa bâriklanâ fî mâ a’thait. Wa qinâ syarra mâ qadhait. Fa innaka taqdhî wa lâ yuqdhâ ‘alaik. Wa innahû lâ yazillu man wâlait. Wa lâ ya’izzu man ‘âdait. Baca Juga Dalil Baca Qunut saat Witir Separuh Terakhir Ramadhan Tabârakta rabbanâ wa ta’âlait. Fa lakal hamdu a’lâ mâ qadhait. Wa astagfiruka wa atûbu ilaik, wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alâ âlihi wa shahbihi wa sallam
Artinya: “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kami sebagaimana mereka yang telah Engkau tunjukkan. Dan berilah kesehatan kepada kami sebagaimana mereka yang Engkau telah berikan kesehatan. Dan peliharalah kami sebagaimana orang yang telah Engkau peliharakan.
Dan berilah keberkahan kepada kami pada apa-apa yang telah Engkau karuniakan. Dan selamatkan kami dari bahaya kejahatan yang Engkau telah tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang menghukum dan bukan terkena hukum. Maka sesungguhnya tidak hina orang yang Engkau pimpin. Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya.
Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau. Maha bagi Engkau segala pujian di atas yang Engkau hukumkan. Aku memohon ampun dari Engkau dan aku bertaubat kepada Engkau. (Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera untuk junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.”
