Mataram –
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB Ul) merilis hasil kajian bertajuk Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) selama kurun waktu tujuh tahun.
Penyelidikan itu meliputi estimasi kontribusi kegiatan pertambangan, pembangunan smetter, dan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT AMMAN terhadap perekonomian skala nasional dan Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang periode 2018 hingga 2024.
Kajian ini menggunakan pendekatan analisis Inter Regional Input Output (RIO) dan kerangka economic multiplier untuk mengestimasi dampak ekonomi dari belanja investasi, operasional, dan program pemberdayaan masyarakat oleh PT AMMAN terhadap perekonomian nasional dan daerah.
Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI Uka Wikarya, menjelaskan penyelidikan ini tidak hanya menghitung dampak langsung seperti belanja barang dan jasa kepada kontraktor, pemasok atau sektor lain yang berkaitan dengan usaha PT AMMAN. Namun, juga dampak tidak langsung yaitu aktivitas ekonomi yang muncul ketika para pemasok berproduksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Menurut Uka, sepanjang periode kajian, aktivitas PT AMMAN telah menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai sektor terkait telah menghasilkan tambahan output ekonomi di Provinsi NTB sebesar Rp 224,3 triliun dan berkontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi sebesar Rp 147 triliun.
“Secara rata-rata, kontribusi ini setara sekitar Rp 21 triliun per tahun atau 13,3 persen dari total PDRB NTB atas dasar harga berlaku,” kata Uka ditemui di Mataram bersama jajaran Direksi PT AMMAN, Kamis malam (5/3/2026).
Pada 2024 saja, Uka berujar, kontribusi PT AMMAN terhadap PDRB Provinsi NTB mencapai Rp 40,6 triliun, atau 22,3 persen dari total PDRB atas dasar harga berlaku Provinsi NTB dalam harga nominal.
Selain kontribusi terhadap output dan PDRB, kajian menunjukkan adanya dampak sosial ekonomi yang signifikan di wilayah NTB.
“Kami kira aktivitas PT AMMAN memberikan pengaruh luas di berbagai sektor dan meningkatkan peluang masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi khususnya di NTB,” tegasnya.
Berdasarkan temuan kajian, tutur Uka, menunjukkan bahwa kontribusi PT AMMAN tidak hanya terlihat pada angka angka makro, tetapi juga pada tingkat rumah tangga dan komunitas.
Selain itu, kegiatan operasional AMMAN menciptakan rangkaian efek berganda yang luas. Misalnya, kebutuhan penyediaan makanan bagi ribuan karyawan, menghidupkan usaha para petani, peternak, dan penyedia bahan pangan lokal.
“Begitu pula dengan kebutuhan logistik dan jasa lainnya yang membuka kesempatan kerja di berbagai sektor dan wilayah. Inilah yang membuat pertumbuhan ekonomi yang dipicu AMMAN berdampak dengan skala luas,” ujar Uka.
Menurut dia, peningkatan aktivitas ekonomi yang didorong oleh operasional dan investasi PT AMMAN juga berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat di NTB. Sepanjang periode kajian, aktivitas perusahaan tercatat meningkatkan pendapatan pekerja rumah tangga di NTB sebesar Rp 59 triliun. Selama periode kajian, atau setara rata-rata Rp 8,4 triliun per tahun.
Peningkatan pendapatan ini turut berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan di NTB, khususnya di daerah sekitar operasional perusahaan. Selain itu, kontribusi AMMAN terhadap peningkatan kapasitas fiskal daerah juga terpantau signifikan melalui peningkatan transfer dari pemerintah pusat, temmasuk dana bagi hasil (DBH).
“Ini membuat ada peningkatan aktivitas ekonomi yang mendorong peningkatan penerimaan pajak/retribusi daerah secara tidak langsung,” katanya.
Selain pertumbuhan ekonomi, kajian mencatat bahwa aktivitas PT AMMAN memberikan multiplier effect yang menciptakan rata rata sekitar 36,5 ribu lapangan kerja per tahun di Provinsi NTB.
Pada tahun 2024 saja, kata Uka, jumlah kesempatan kerja dari dampak langsung dan tidak langsung yang tercipta mencapai lebih dari 72 ribu pekerjaan, yang tersebar di sektor pangan, konstruksi, transportasi, dan jasa lainnya yang terhubung dengan rantai pasok perusahaan.
“Pembangunan fasilitas smelter di NTB dinilai menjadi tonggak penting dalam memperkuat hilirisasi industri pertambangan nasional dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri,” katanya.
Keberadaan smelter ini diharapkan memperkuat struktur industri regional, menciptakan lapangan kerja baru, dan mendorong pertumbuhan sektor industri pengolahan di Provinsi NTB.
