Denpasar –
Skandal Jeffrey Epstein kembali memunculkan fakta mencengangkan. Dokumen terbaru yang dirilis sepenuhnya mengarah pada dugaan keterkaitan Epstein dengan skopolamin, zat berbahaya yang dikenal luas sebagai ‘obat zombie’ karena efeknya yang dapat melumpuhkan kehendak bebas seseorang.
Dilansir dari, rangkaian email yang ditemukan menunjukkan Epstein sempat bertanya kepada orang kepercayaannya mengenai tanaman Angel’s Trumpet atau kecubung hutan. Tanaman tersebut merupakan sumber alami skopolamin, zat yang juga dijuluki sebagai ‘napas setan’.
Efek ‘Obat Zombie’
Skopolamin dikenal mampu membuat pengguna memasuki kondisi disosiatif ekstrem. Dalam dosis tertentu, zat ini tidak hanya menimbulkan halusinasi, tetapi juga membuat seseorang sangat patuh terhadap perintah serta kehilangan ingatan jangka pendek.
Efek inilah yang membuatnya dijuluki ‘obat zombie’. Pengguna dapat tetap sadar dan berinteraksi, namun berada dalam kondisi mental yang rentan dan mudah dikendalikan.
Di sejumlah negara, seperti Kolombia, skopolamin kerap disalahgunakan untuk tindak kriminal. Korban dilaporkan dimanipulasi untuk melakukan tindakan tertentu tanpa perlawanan dan tanpa mengingat kejadian setelahnya.
Sulit Terdeteksi, Rawan Disalahgunakan
Pusat Perawatan Kecanduan Inggris memperingatkan bahwa efek zat ini menyerupai teknik pengendalian pikiran karena perubahan kondisi mental yang drastis.
Lebih jauh, skopolamin disebut sulit terdeteksi dalam pemeriksaan toksikologi standar. Kondisi tersebut membuatnya rawan disalahgunakan sebagai obat pemerkosaan (date rape drug), karena korban sering kali tidak mampu mengingat peristiwa setelah sadar dari pengaruh zat itu.
Jejak dalam Dokumen Epstein
Meski Epstein tidak secara eksplisit menyebut nama obat tersebut, dokumen menunjukkan ia menerima artikel yang membahas secara rinci efek skopolamin dan tanaman Angel’s Trumpet.
Dalam konteks jaringan kriminalitasnya, temuan ini memperkuat dugaan bahwa zat yang dikenal sebagai ‘obat zombie’ itu dapat menjadi salah satu cara untuk membungkam dan mengendalikan korban agar tidak mampu melawan maupun mengingat kejadian yang menimpa mereka.
