Dinas Perhubungan (Dishub) Badung mengeklaim penerapan rekayasa lalu lintas (lalin) di kawasan Kerobokan Kelod, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali, efektif mengurai kemacetan. Manajemen dan rekayasa lalu lintas (MRLL) di sembilan persimpangan di kawasan itu telah diterapkan sejak 14 Desember 2025.
Kepala Dishub Badung, AA Rai Yuda Darma, mengakui hasil evaluasi menunjukkan adanya bottleneck alias sumbatan arus lalin di beberapa persimpangan jalan. Rencananya, bakal ada pelebaran geometrik simpang di Jalan Mertanadi Utara, tepatnya di sebelah barat Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kerobokan. Selain itu, persimpangan di Jalan Pengubengan Kauh-Jalan Intan di sisi utara LP juga diusulkan untuk dilebarkan.
“Setelah kendaraan melewati mulut simpang, arus lalu lintas cenderung padat lancar saat jam sibuk dan lancar landai ketika volume kendaraan sesuai kapasitas jalan,” ujar Yuda Darma, Rabu (7/1/2026).
Yuda Darma menegaskan uji coba rekayasa lalin ini dilakukan untuk mengatasi kemacetan di Kerobokan Kelod. Ia menilai skema tersebut dapat menurunkan kepadatan arus lalin, meningkatkan kelancaran pergerakan lalin, dan meminimalkan konflik di persimpangan yang selama ini jadi titik rawan macet.
“Penerapan pola arus baru di ruas jalan strategis membuat pergerakan kendaraan lebih teratur. Kepadatan di kawasan ini pun berkurang, meski volume kendaraan tetap tinggi,” imbuhnya.
Menurut Yuda Darma, ruas-ruas jalan yang sebelumnya menjadi langganan kemacetan berangsur berkurang. Mulai dari ruas Jalan Batubelig, Jalan Petitenget, Jalan Raya Kerobokan Taman, hingga Jalan Raya Kerobokan Semer ke arah selatan.
“Memang jarak tempuh menjadi lebih panjang karena pengendara diarahkan memutar, tapi waktu perjalanan justru lebih singkat,” ujarnya.
Secara teknis, dia melanjutkan, penerapan satu arah bagi kendaraan efektif meniadakan konflik atau crossing di persimpangan jalan. Ia mengaku masih memantau secara intensif, mengidentifikasi fluktuasi volume kendaraan, dan membandingkannya dengan kapasitas jalan.
“Esensi utama kelancaran lalu lintas terletak pada keseimbangan antara volume kendaraan dan kapasitas jalan,” kata Yuda Darma.
Penerapan rekayasa lalin di Kerobokan Kelod memicu beragam respons, mulai dari keluhan hingga dukungan di media sosial. Yuda menilai hal itu sebagai bagian dari proses adaptasi. Ia mengklaim pekerja di sektor transportasi justru merespons positif karena waktu tempuh mereka menjadi lebih singkat.
“MRLL disiapkan sebagai solusi jangka panjang, seiring pertumbuhan kendaraan yang belum dapat ditekan dan kapasitas jalan yang berkembang relatif lambat,” pungkasnya.
Menurut Yuda Darma, ruas-ruas jalan yang sebelumnya menjadi langganan kemacetan berangsur berkurang. Mulai dari ruas Jalan Batubelig, Jalan Petitenget, Jalan Raya Kerobokan Taman, hingga Jalan Raya Kerobokan Semer ke arah selatan.
“Memang jarak tempuh menjadi lebih panjang karena pengendara diarahkan memutar, tapi waktu perjalanan justru lebih singkat,” ujarnya.
Secara teknis, dia melanjutkan, penerapan satu arah bagi kendaraan efektif meniadakan konflik atau crossing di persimpangan jalan. Ia mengaku masih memantau secara intensif, mengidentifikasi fluktuasi volume kendaraan, dan membandingkannya dengan kapasitas jalan.
“Esensi utama kelancaran lalu lintas terletak pada keseimbangan antara volume kendaraan dan kapasitas jalan,” kata Yuda Darma.
Penerapan rekayasa lalin di Kerobokan Kelod memicu beragam respons, mulai dari keluhan hingga dukungan di media sosial. Yuda menilai hal itu sebagai bagian dari proses adaptasi. Ia mengklaim pekerja di sektor transportasi justru merespons positif karena waktu tempuh mereka menjadi lebih singkat.
“MRLL disiapkan sebagai solusi jangka panjang, seiring pertumbuhan kendaraan yang belum dapat ditekan dan kapasitas jalan yang berkembang relatif lambat,” pungkasnya.
