Tokoh Puri Agung Ubud, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace, mengusulkan nama sejumlah jalan di Ubud, Bali, diganti dengan nama tokoh-tokoh seniman. Saat ini, nama-nama jalan di Ubud masih menggunakan nama bunga dan tokoh pewayangan.
“Nama-nama jalan kami di Ubud sementara sekarang masih nama-nama kembang. Ada Jalan Sandat, Jalan Jepun, Jalan Arjuna, Jalan Hanuman. Kami mengusulkan nama-nama tersebut diganti dengan nama-nama tokoh-tokoh seniman,” ujar Cok Ace saat menerima kunjungan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana di Puri Saren Ubud, Kamis (1/1/2026).
Cok Ace mencontohkan beberapa tokoh seniman yang dinilai layak diabadikan sebagai nama jalan. Misalkan seniman Gusti Nyoman Lempad Gusti Nyoman Lempad dan Rudolf Bonnet. Ia menilai penggantian nama jalan itu dapat memperkuat identitas dan nuansa Ubud sebagai desa seni.
“Nyoman Lempad, Rudolf Bonnet, dan lain sebagainya, sehingga memberikan nuansa Ubud sebagai desa seniman akan lebih diingat,” imbuh mantan wakil gubernur Bali itu.
Cok Ace berharap penggantian nama-nama jalan di Ubud bisa direalisasikan pada 2027. Di sisi lain, ia menyebut Ubud sebagai destiniasi yang mengedepankan pariwisata budaya juga menghadapi tantangan.
Salah satunya terkait infrastruktur seperti kabel listrik dan trotoar rusak yang kerap mengganggu kegiatan adat dan budaya di Ubud. Ia mencontohkan upacara palebon atau kremasi dengan bade (tempat jenazah) tinggi menjulang kerap terhalang oleh kabel-kabel yang menjuntai di jalanan Ubud.
“Sering terkendala oleh kabel listrik dan lain sebagainya, oleh trotoar yang tidak memungkinkan. Kami menggotong tempat jenazah dalam posisi lebar karena terganggu oleh trotoar,” pungkas ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali itu.
Cok Ace berharap penggantian nama-nama jalan di Ubud bisa direalisasikan pada 2027. Di sisi lain, ia menyebut Ubud sebagai destiniasi yang mengedepankan pariwisata budaya juga menghadapi tantangan.
Salah satunya terkait infrastruktur seperti kabel listrik dan trotoar rusak yang kerap mengganggu kegiatan adat dan budaya di Ubud. Ia mencontohkan upacara palebon atau kremasi dengan bade (tempat jenazah) tinggi menjulang kerap terhalang oleh kabel-kabel yang menjuntai di jalanan Ubud.
“Sering terkendala oleh kabel listrik dan lain sebagainya, oleh trotoar yang tidak memungkinkan. Kami menggotong tempat jenazah dalam posisi lebar karena terganggu oleh trotoar,” pungkas ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali itu.
