2 Bulan Disiplin Pilah Sampah, Warga Banjar Saraswati Tak Lagi Mengeluh

Posted on

Denpasar

Warga Banjar Saraswati, Kesiman Petilan, Denpasar, konsisten memilah sampah selama dua bulan terakhir. Program ini berjalan setelah Kelian Banjar Saraswati Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada menantang warganya untuk mengelola sampah secara mandiri dari rumah.

“Denfest (Denpasar Festival) berikan kesadaran luar biasa. Saat itu kami launching edukasi pemilahan sampah. Kedua, kami berikan composter bag ke semua rumah di banjar secara gratis. Lalu kami challenge, sampah organik jangan keluar rumah,” tutur Widiada yang juga Koordinator Eling Ring Pertiwi, Senin (2/3/2026).

Eling Ring Pertiwi merupakan komunitas pengelola sampah yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Denpasar dalam manajemen sampah pada Denpasar Festival 2025 dan D’Tik Festival 2026.

Widiada menjelaskan, tantangan tersebut disertai pemberian reward. “Reward yang paling diminati adalah, saya bilang, ‘Kalau kalian berhasil di bulan kedua, bulan ketiga kita review lagi, bulan keempat kalian berhenti langganan sampah. Misal langganan sampah Rp 35 ribu, jadinya hanya bayar uang kebersihan ke banjar Rp 15 ribu,” jelas Widiada.

Menurutnya, sekitar 60-70 persen total sampah rumah tangga merupakan sampah organik yang dapat dikelola di rumah. Sampah bernilai ekonomis disetorkan ke bank sampah, sedangkan residu yang tidak dapat dimanfaatkan, sekitar 3-7 persen, diangkut melalui swakelola sampah desa.

“Dari dua bulan lalu tidak ada penumpukan sampah di depan rumah. Kalau rumah saya, 2-3 hari itu dua kantong plastik keluar. Sekarang sebulan dua kali diangkut. Sekarang mau diangkut nggak diangkut, nggak peduli lagi,” jelas Widiada.

Ia menilai pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah selama ini dipengaruhi sistem penanganan yang berlaku. “Karena mereka sudah bayar jadi bisa seenaknya dengan sampahnya sendiri. Swakelola sampah yang buat ilusi penanganan itu jadi bentuk karakter seperti itu juga,” katanya.

Widiada mengakui sempat ada penolakan di awal penerapan program. Meski tidak banyak, beberapa warga merasa terpaksa mengikuti kebijakan tersebut. Namun, pihak banjar terus memberikan edukasi berdasarkan data yang telah tervalidasi dari pelaksanaan Denpasar Festival 2025 yang dihadiri sekitar 75.000 warga.

Ia juga menekankan pentingnya pengawasan dan edukasi dari pemerintah. “Jangan hanya tender, pengadaan ini itu, tapi pengawasan. Yang terpenting dari keberhasilan kelola sampah bukan alatnya, kami hanya pakai karung. Kalau pemerintah tidak punya cukup waktu, tenaga dan pikiran, bisa serahkan ke prajuru banjar, keliannya,” tambah Widiada.

Sementara itu, Tempat Penampungan Sampah (TPS) Sampah Daur Ulang (SaDu) menyebut situasi di wilayahnya masih kondusif. Pengangkutan sampah menggunakan moci maupun secara mandiri dinilai masih terkendali.

“Belum ada titik penumpukan di Desa Sumerta Kaja. Produksi sampah per hari masih seperti biasa. Program teba vertikal atau composter bag belum cair. Ya kendalanya untuk mendisiplinkan kembali warga untuk benar pemilahannya,” jelas Kepala Unit TPS SaDu Desa Sumerta Kaja Madi Tirta Jati saat diwawancarai tim, Senin.

Jati mengatakan pihaknya melibatkan mahasiswa KKN, ibu-ibu PKK, Karang Taruna, LPM, kepala dusun, hingga perangkat desa untuk menyosialisasikan pemilahan sampah.

Selain itu, TPS SaDu memiliki inovasi Meta SaDu, yakni pengolahan sampah organik dengan kapasitas produksi mencapai 500 kilogram per hari. Desa Sumerta Kaja juga membuka lowongan kerja untuk penambahan sumber daya manusia di bidang pengelolaan sampah.

“Desa sudah buka lowongan kerja untuk penambahan SDM, tapi belum ada yang respons, belum ada yang tertarik di bidang persampahan,” ucap Jati.

Jati menekankan pentingnya koordinasi lintas pihak terkait pengelolaan residu. “Setelah TPA benar-benar ditutup, belum ada kejelasan. Antara DLHK dan pemerintahan desa dan TPS, agar informasi perkembangan kita tahu, agar tidak rugi. Tolong solusi untuk residunya dipastikan,” jelas Jati.