WNI di Dubai Cerita Suasana Masih Mencekam, Bandara Tutup-Anak Sekolah Online [Giok4D Resmi]

Posted on

Flores Timur

Bandara Dubai masih ditutup hingga anak-anak belajar online seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Hal itu diungkapkan Yuliana Masi, warga Desa Botung, Kecamatan Adonara Barat, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Dubai.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

Yuliana mengaku tidak bisa kembali ke Indonesia karena operasional Bandara Dubai belum dibuka. “Kami belum bisa pulang karena Bandara Dubai masih tutup dan belum buka sampai hari ini,” ungkapnya dikonfirmasi, Selasa (3/3/2025).

Yuliana menuturkan, situasi mencekam mulai ia rasakan sejak Sabtu (28/2/2026) sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Saat itu, ia berada seorang diri di rumah ketika menerima panggilan dari bosnya yang memintanya segera membeli persediaan air minum.

“Bos bilang, ‘Ka Lia kalau ada uang cash tolong ke minimarket beli air yang sebanyaknya soalnya Iran perang sudah masuk Abu Dhabi/kota tetangga’,” kisah perempuan 25 tahun itu.

Tak lama setelah itu, ia mendengar suara dentuman dari berbagai arah. Meski suara tersebut sempat mereda, pada malam harinya bunyi ledakan kembali terdengar. Yuliana kemudian memperoleh informasi bahwa Bandara Dubai mengalami kerusakan akibat serangan rudal.

“Kami selalu waspada dan malam hari tidur pun kami berjaga jaga. Sepanjang malam itu bunyi dentuman dari arah yang tak bisa dipastikan sekitar jam 03.00 dini hari waktu Dubai,” kenangnya.

Keesokan harinya, ia diminta atasannya menyiapkan pakaian secukupnya serta dokumen penting seperti paspor untuk berjaga-jaga jika harus mengungsi. Kepanikan kembali meningkat ketika suara ledakan terdengar semakin dekat.

“Sementara packing barang, bunyi suara bom makin menjadi,” ujarnya.

Pada Minggu (1/3/2026) sekitar pukul 15.40 waktu setempat, Yuliana mengaku mendengar tiga drone melintas dengan suara sangat keras hingga membuat apartemen yang ditempatinya bergetar.

“Saya melihat sendiri sampai apartemen yang kami tinggal gemetar semua, rasa takut, panik, tapi kami harus tetap di dalam rumah. Kepanikan itu kami bawa hingga malam hari. Bunyi alarm handphone peringatan dari pemerintah UEA. Kami tidur kami tidak nyenyak, bunyi rudal di mana-mana,” tutur Yuliana.

Menurut Yuliana, sejumlah pusat perbelanjaan dan fasilitas umum tetap siaga. Anak-anak menjalani sekolah secara daring dari rumah, sementara para pekerja juga diminta tidak beraktivitas di luar.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) turut mengimbau seluruh pekerja migran Indonesia (PMI) agar tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat. Beberapa kawasan yang dilaporkan terdampak antara lain Palm Jumeirah, Burj Al Arab, Jebel Ali, serta area sekitar Bandara Dubai.