Mataram –
Kinerja ekspor Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melonjak tajam pada Januari 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat, nilai ekspor mencapai US$ 76,6 juta atau naik 1.868,45 persen dibandingkan Januari 2025.
“Peningkatan ini didorong oleh kenaikan ekspor komoditas non tambang, terutama tembaga yang merupakan hasil industri smelter,” kata Kepala BPS NTB, Wahyudin, usai merilis data di kantornya, Senin (2/3/2026).
“Selain itu, pada Januari 2026, terdapat ekspor komoditas tambang (konsentrat),” sambungnya.
Secara rinci, komoditas terbesar pada Januari 2026 didominasi tembaga sebesar US$ 50,8 juta atau 66,33 persen dari total ekspor. Disusul barang galian atau tambang nonmigas US$ 18,8 juta (24,6 persen), ikan dan udang US$ 5,9 juta (7,79 persen), serta daging dan ikan olahan US$ 542 ribu (0,71 persen).
Komoditas lainnya yakni garam, belerang dan kapur sebesar US$ 154 ribu (0,20 persen), bahan kimia anorganik US$ 137 ribu (0,18 persen), serta komoditas lain US$ 146 ribu (0,19 persen).
Wahyudin menjelaskan, komoditas tembaga menjadi ekspor terbesar dengan tujuan Thailand dan Tiongkok sebesar 59,59 persen.
“Kemudian disusul Tiongkok (31,72 persen), Amerika Serikat (8,45 persen), Jepang (0,07 persen), India (0,04 persen), Hongkong (0,03 persen), Vietnam (0,03 persen), Singapura (0,02 persen), Taiwan (0,01 persen) dan negara lainnya (0,03 persen),” tutur Wahyudin.
Di sisi lain, BPS NTB mencatat nilai impor pada Januari 2026 justru menurun signifikan. Total impor turun 94,18 persen dibandingkan Januari 2025.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Komoditas impor terbesar berupa mesin-mesin atau pesawat mekanik sebesar US$ 1,9 juta atau 89,9 persen dari total impor. Disusul kendaraan dan bagiannya US$ 143 ribu (6,45 persen), karet dan barang dari karet US$ 55 ribu (2,49 persen), serta mesin atau peralatan listrik US$ 23 ribu (1,07 persen).
“Impor Januari 2026 terbesar berasal dari Australia dengan nilai US$ 1,8 juta atau sekitar 84,39 persen. kemudian disusul Amerika Serikat (6,45 persen), India (3,98 persen), Singapura (2,64 persen), Tiongkok (2,45 persen), Italia (0,09 persen),” terang Wahyudin.
“Nilai impor NTB pada Januari 2026 menurun 94,18 persen dibandingkan Januari 2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh tidak adanya impor barang konsumsi seperti pada tahun sebelumnya, serta menurunnya impor barang modal. Khususnya pada kelompok mesin-mesin atau pesawat mekanik,” pungkasnya.
