Denpasar –
Wisatawan asal China pernah menjadi salah satu penyumbang utama kunjungan ke Bali. Pada 2019, jumlah wisatawan Negeri Tirai Bambu yang datang ke Pulau Dewata mencapai 1,2 juta orang dan menempati peringkat tertinggi ketiga setelah India dan Australia.
“Tahun 2019 sebesar 1,2 jt,” ujar Gubernur Bali Wayan Koster dalam sambutan agenda Perayaan Imlek Tahun Kuda 2026 di Hong Kong Garden Restaurant, Selasa (10/2/2026) malam.
Agenda tersebut juga dihadiri Wakil Gubernur Bali Nyoman Giri Prasta, Konsulat Jenderal China di Denpasar Zhang Zhisheng, Gubernur Bali periode 2008-2018 I Made Mangku Pastika, serta Ketua Majelis Desa Adat Bali Ida Penglisir Agung Putra Sukahet.
Koster menjelaskan, pascapandemi COVID-19, jumlah kunjungan wisatawan China ke Bali belum sepenuhnya pulih dan menyamai capaian sebelum pandemi COVID-19. Meski begitu, ia menilai kondisi tersebut menunjukkan tren pemulihan.
Pada 2024, jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok tercatat sebanyak 448.000 orang. Angka itu meningkat pada 2025 menjadi 537.000 orang.
Koster menilai capaian tersebut menunjukkan adanya pemulihan, meski belum optimal. Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi kebijakan Pemerintah China yang hingga kini masih membatasi perjalanan warganya ke luar negeri.
“Jika dibandingkan sebelum COVID-19 tahun 2019, kunjungan wisatawan Tiongkok ke Bali mencapai 1,2 juta orang. Setelah COVID-19 menerapkan kebijakan yang sangat ketat berkunjung ke negra lain dan berlaku hingga sekarang sehingga jumlah pengunjung belum ada yang menyamai tahun 2019. Kebijakannya sangat ketat untuk berkunjunga ke negara lain dan masih berlaku hingga saat ini,” ungkapnya.
Ia menilai kebijakan perjalanan tersebut menjadi salah satu faktor utama belum pulihnya angka kunjungan wisatawan China seperti sebelum pandemi.
Dalam agenda kerja sama yang diselenggarakan pada kegiatan tersebut, Gubernur Bali dua periode itu menyampaikan harapan agar hubungan kerja sama antara Bali dan China terus diperkuat.
“Kami berharap kerja sama ke depan semakin baik antara Bali dan Tiongkok, tidak hanya di sektor pariwisata,” ujarnya.
“Kerja sama ini juga mencakup pendidikan, pertukaran pelajar, dan pengembangan sumber daya manusia,” imbuh Koster.
