Water Screen Jadi Nyawa Baru Monumen Giri Menang Square

Posted on

Monumen Giri Menang Square (GMS) yang terletak di Bundaran Gerung, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), mendadak diserbu warga. Sejak dibuka kembali satu pekan lalu, kawasan yang dulu sepi itu kini berubah menjadi ruang publik favorit masyarakat.

Monumen menyerupai bangunan masjid itu sebelumnya nyaris tak dilirik. Ia bagai bangunan mati di tengah-tengah bundaran, lebih sering dilewati daripada didatangi.
Namun GMS berubah seusai direvitalisasi, sejumlah fitur baru seperti water screen dan air mancur menari dipasang, menjadikannya magnet bagi warga yang berdatangan.

Pantauan infoBali beberapa waktu lalu, ribuan pengunjung memadati kawasan GMS selepas Magrib. Keramaian datang dari berbagai arah, ada orang tua yang mengajak anak-anaknya, pasangan yang berkencan menikmati suasana malam, dan warga yang sekedar duduk menonton teknologi water screen.

Salah satu pengunjung bernama Saulandari, mengatakan tertarik datang ke GMS karena penasaran dengan fitur baru water screen dan air mancur menari yang viral di sosial media.

“Water screennya sih (yang membuat tertarik). Lihat-lihat di sosmed kirain AI atau editan, makanya penasaran. Dan ternyata benar,” tuturnya ditemui infoBali.

Animasi yang ditampilkan cukup beragam. Mulai dari hewan yang menari atau bergerak, pola-pola simetris dengan warna cerah, hingga tayangan video sambutan Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat.

“Konsep animasinya menarik, tapi lama-lama pasti orang bosan kalau nggak ada perubahan,” ujar mahasiswi asal Lombok Timur tersebut.

Pengunjung lain, Afral mengatakan betah berkeliling di kawasan GMS selama berjam-jam. Menurutnya, jalanan berpaving block membuat suasana GMS terasa seperti alun-alun perkotaan.

“Asyik aja jalan-jalan keliling sambil lihat orang,” ucap mahasiswa asal Mataram tersebut.

Kawasan GMS yang mendadak ramai bukan tanpa masalah. Fasilitas pendukung seperti toilet terpantau belum tersedia. Padahal, dengan jumlah pengunjung yang mencapai ribuan dan durasi kunjungan yang cukup lama, membuat fasilitas dasar tersebut dibutuhkan.

Masalah lain juga muncul dari sisi parkir. Keterbatasan lahan membuat pengunjung memarkir kendaraan di pinggir jalan. Akibatnya, arus lalu lintas di Bundaran Gerung kerap tersendat. Padahal, kawasan ini menjadi penghubung jalur Bypass dari arah Bandara Internasional Lombok (BIL), Pelabuhan Lembar, Kota Mataram, hingga RSUP NTB.

“Yang buat dia kurang bagus, karena kendaraan parkir nggak beraturan. Kami mau keluar (pulang) jadinya nunggu lama, toilet juga belum ada kalau mau lama-lama,” pungkas Afral.