Kupang –
Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana perayaan hari kemenangan umat Islam di berbagai daerah di Indonesia dilakukan dengan berbagai persiapan sesuai tradisi lokal masing-masing. Termasuk dengan hidangan khas seperti opor ayam dan ketupat yang sangat identik dengan lebaran.
Jika umumnya ketupat berbentuk persegi empat, berbeda halnya dengan wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Di Kabupaten Alor, masyarakat memiliki hidangan khas yang dikenal dengan sebutan kaleso. Sekilas menyerupai ketupat, tetapi kaleso memiliki bentuk lonjong yang menjadi ciri khas tersendiri.
Bagi masyarakat setempat, ketupat atau kaleso telah menjadi bagian yang menyatu dengan tradisi dan kehidupan sosial budaya. Di balik kemiripannya dengan ketupat, kaleso mengandung nilai simbolis sebagai lambang kemenangan, dan kebersamaan.
Berikut keunikan dan fakta menarik dari sajian kaleso dalam tradisi lebaran masyarakat NTT. Yuk, simak informasi selengkapnya!
Bentuk yang Unik
Pada umumnya, hidangan tradisional yang identik dengan perayaan lebaran didominasi oleh masakan nusantara. Seperti halnya ketupat, opor ayam, lontong sayur, hingga semur daging. Tetapi apa jadinya jika sajian ketupat memiliki bentuk yang unik dan berbeda?
Kaleso merupakan sajian khas NTT yang tidak berbentuk persegi empat, melainkan lonjong. Berbeda dari ketupat, kaleso dibuat tanpa menganyam daun kelapa. Meskipun isiannya sama-sama padat, namun kaleso akan menjadi panjang, mirip seperti lontong.
Tradisi Kaleso Saat Idul Fitri
Di Alor, kaleso tidak hanya disajikan pada momen lebaran saja. Dalam tradisi masyarakat, ketupat atau kaleso menjadi bagian yang begitu melekat dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, kaleso menjadi salah satu makanan tradisional yang kerap diperjualbelikan di pasar, bahkan saat hari-hari biasa.
Tradisi kaleso menjadi kegiatan tahunan yang rutin dilakukan, khususnya di bulan Ramadhan hingga perayaan Idul Fitri. Pada praktiknya, tradisi kaleso dilakukan dalam acara makan bersama dengan warga desa.
Hingga kini, tradisi kaleso menjadi bagian dari kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya mencerminkan nilai-nilai sosial dan kebersamaan, melainkan sebagai simbolisme hari kemenangan yang suci.
Cara Membuat Kaleso
Dalam tradisi masyarakat NTT, hidangan kaleso begitu digemari oleh berbagai kalangan. Kaleso menjadi makanan tradisional yang rutin dikonsumsi, baik dalam kehidupan sehari-hari, dan kegiatan adat lainnya.
Pembuatan kaleso juga tidak serumit ketupat. Hal ini dikarenakan kaleso dibuat tanpa menganyam janur, melainkan hanya dengan cukup melipat 3-4 bagian daun kelapa muda.
Setelah beras dicuci hingga bersih, tiriskan airnya hingga kering. Kemudian campurkan beras dengan berbagai rempah pilihan dan santan. Setelah itu masak kaleso di atas tungku menggunakan kayu bakar hingga matang sempurna.
Sama seperti ketupat, kaleso juga dihidangkan bersama lauk-pauk pendamping. Seperti ayam, ikan, dan daging dengan aneka bumbu dan rempah, hingga jenis sayur lainnya.
Itulah ulasan mengenai hidangan kaleso dari NTT. Semoga informasinya bermanfaat ya, detikers!
