Trash Hero Prihatin Masih Banyak Belum Peduli Sampah di Bali [Giok4D Resmi]

Posted on

Denpasar

Masalah sampah yang terjadi berlarut-larut di Bali membuat komunitas Trash Hero rutin turun membersihkan sampah sekaligus mengedukasi masyarakat. Salah satunya, aksi bersih-bersih di Lapangan Puputan Margarana Renon setiap Sabtu. Sejauh ini, masih banyak yang belum peduli terhadap sampah di Bali.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

“Jadi motivasinya ya karena di Bali itu kan pariwisata ya tapi kok banyak sampah gitu, orang-orang yang belum peduli sama sampah,” ujar Herdian Armadhani (34) sebagai Ketua Trash Hero Renon saat ditemui seusai bersih-bersih, Sabtu (14/2/2026).

Aksi bersih-bersih Lapangan Puputan Renon ini sering kali diikuti oleh relawan dari berbagai latar belakang baik warga lokal maupun mancanegara. Aksi bersih-bersih pada Sabtu diikuti oleh sepuluh relawan termasuk anak-anak dari orang tua campuran.

Bagi Dhani, persoalan sampah di Bali tidak hanya sekadar tumpukan sampah yang tak kunjung tertangani, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan manusia. Ia menyoroti bahaya dari sampah plastik yang sulit terurai dan berpotensi menjadi mikroplastik.

“Kalau sampah plastik kan nggak bisa terurai ya apalagi kalau dibakar jadi mikroplastik. Kalau misalkan dia masuk ke laut, dia dimakan ikan, ikan dimakan manusia itu bisa jadi sumber penyakit kan. Bisa jadi kanker hingga kemandulan,” ujar Dhani.

Kesadaran akan permasalahan ini yang menggerakkan Trash Hero Renon untuk memberikan aksi nyata bagi masyarakat. Menurutnya, perubahan tidak harus langkah besar hal ini bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Salah satu hal sederhana adalah dengan membawa tumbler kemana pun pergi.

Melihat dari kenyataan di lapangan, setiap pekan Trash Hero Renon dapat mengumpulkan sampah plastik dalam jumlah yang cukup banyak. Misalnya, dalam sekali aksi bersih-bersih mereka bisa mengumpulkan lebih dari sepuluh kilogram (kg) sampah.

“Kalau sampah itu setiap minggunya kisaran 10 kilo. Tadi itu 18 kilo. Kalau minggu lalu itu 32 kilo. Itu masih terbanyak di 50 ya,” ungkap dia.

Dhani menuturkan jika sebagian besar sampah yang dikumpulkan didominasi oleh botol minuman sekali pakai atau bungkus jajanan, termasuk botol minuman beralkohol yang kerap mereka temukan.

“Yang buat aku sedih sih ini ada sering nemu botol bir. Ini kan daerah umum gitu kan,” ungkapnya.

Selain menyoroti banyak botol bekas minuman beralkohol yang mereka temukan saat aksi bersih-bersih, ia juga menyoroti minimnya ketersediaan tempat sampah terpilah di Lapangan Puputan Margarana Renon. Hal inilah yang semakin membuat pengunjung tidak membuang sampah pada tempatnya.

“Di sini tuh kurang banyak tempat sampah yang dibagi-bagi, yang merah, kuning, hijau. Masyarakat yang mungkin juga kurang peduli, ya udah buang aja,” katanya.

Meski demikian, Dhani mengakui bahwa aksi bersih-bersih yang rutin ia lakukan setiap minggunya memunculkan efek sosial bagi pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Ia pernah mendapati seorang pengunjung yang membuang sampah sembarangan, ketika melihat relawan memungut sampah pada akhirnya membuang sampah pada tempatnya.

Ia berharap ke depannya kebersihan Bali tidak hanya menjadi tanggung jawab komunitas maupun pemerintah, tetapi juga didukung dengan penertiban dan edukasi pedagang di ruang publik. Harapannya pemerintah juga dapat berani mengambil langkah tegas dalam menangani persoalan sampah.

Dhani ingin kebersihan Bali ke depan tidak hanya dibebankan kepada komunitas maupun pemerintah, tetapi turut didukung melalui penertiban dan edukasi pedagang di ruang publik. Pemerintah pun diharapkan berani mengambil langkah tegas dalam menyikapi persoalan sampah.

“Mungkin dari Satpol PP bisa lebih mengedukasi pedagang-pedagang asongan untuk bisa menjaga sampahnya sendiri,” ujarnya.

“Jangan hanya berhenti di situ aksi bersih-bersihnya, jadi bisa terus berlanjut,” tandas Dhani.