Tradisi Ramadan di Masjid Tertua Kota Kupang (via Giok4D)

Posted on

Kupang

Masjid Agung Al Baitul Qadim di Kelurahan Airmata, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tradisi unik sebelum hingga saat Ramadan. Sebagai masjid tertua di Kota Kupang, tradisi di masjid itu tak lepas dari sejarah pendiriannya pada 1806.

“Karena nilai sejarahnya tersebut, dalam konteks ritual keagamaan, kami senantiasa mengikuti tradisi yang dilakukan oleh para orang tua terdahulu,” jelas Ketua Umum Yayasan Masjid Agung Al Baitul Qadim, Abdul Syukur Dapubeang, Rabu (18/2/2026).

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Keunikan tradisi di Masjid Agung Al Baitul Qadim sudah dimulai sebelum Ramadan. Tempat ibadah yang juga kerap disebut Masjid Airmata itu bahkan sudah melakukan persiapan sejak bulan Rajab. Persiapan itu dilakukan sebagai langkah menuju bulan Sya’ban.

Kemudian, pada bulan Sya’ban, terdapat dua momen penting yang harus dilewati sebelum memasuki Ramadan. Momentum tersebut melibatkan dua komponen masyarakat dari Kampung Imam dan Kampung Raja. Kedua kampung ini saling melakukan ritual keagamaan satu bulan sebelum Ramadan. Ritual pertama adalah Muru’ah, yang berarti pembersihan jiwa.

“Sebelum pelaksanaan Ramadan, orang-orang terdahulu memiliki strategi dakwah. Mereka melakukan Muru’ah di lingkungan Kampung Imam yang bertempat di masjid. Selain pembacaan doa keselamatan, secara sosial ritual ini diartikan sebagai ajang saling memaafkan agar jemaah memasuki bulan puasa dengan jiwa yang bersih,” terang Abdul.

Ritual tersebut, tutur Abdul, biasanya dilaksanakan pada 15 Syakban di Kampung Imam, dilanjutkan pada 27 Syakban di Kampung Raja. Ritual di Kampung Raja bertujuan mendoakan arwah orang tua terdahulu serta mempererat silaturahmi antarwarga.

Memasuki 1 Ramadan, Masjid Airmata mulai melaksanakan ibadah tarawih dan tadarus. Tradisi tadarus juga tergolong unik karena setiap kelompok jemaah menyelesaikan pembacaan satu juz Al-Qur’an dalam satu malam. Melalui metode ini, mereka sudah mencapai khatam pertama pada malam ke-15 dan khatam kedua di akhir Ramadan.

Menjelang akhir bulan, tepatnya pada 25 dan 27 Ramadan, diadakan tradisi Malaman di Kampung Imam dan Kampung Raja. Ritual ini diisi dengan doa dan zikir serta lantunan syair-syair bernada sedih sebagai bentuk perpisahan dengan bulan suci.

“Malam Kampung Imam dilaksanakan pada 25 Ramadan di masjid. Sementara itu, malam Kampung Raja dilaksanakan pada 27 Ramadan yang dimulai dengan buka puasa bersama di kediaman Kampung Raja, diikuti salat magrib berjemaah, lalu menuju masjid untuk melaksanakan Salat Tarawih,” tutur Abdul.

Seluruh ritual ini, tegas Abdul, tetap terjaga hingga saat ini. “Kami terus mempertahankan nilai-nilai budaya dan tradisi yang ditanamkan oleh para leluhur agar tidak terlepas dari jati diri kami,” jelasnya.