Tabanan –
Ketersediaan alat pendeteksi tsunami di Tabanan, Bali, minim. Padahal, Tabanan termasuk wilayah dengan bentang pantai cukup panjang di pesisir selatan Bali.
Hanya ada satu alat pendeteksi tsunami di Tabanan, yakni di Pantai Kedungu, Desa Belalang, Kecamatan Kediri. Alat tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali.
“Saat ini baru satu alat yang terpasang dan suaranya tidak cukup untuk menjangkau di wilayah barat, seperti Selemadeg Timur hingga (Selemadeg) Barat,” ungkap Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan, I Nyoman Sri Nadha Giri, Rabu (11/2/2026).
Tabanan, jelas Sri Nadha, idealnya membutuhkan sekitar lima alat pendeteksi tsunami. Kebutuhan itu menyesuaikan panjang garis pantai di sisi selatan yang membentang dari Kecamatan Kediri hingga Selemadeg Barat.
Sri Nadha Giri menekankan pentingnya upaya antisipasi meski secara historis Tabanan belum pernah mengalami tsunami. Tabanan tetap memiliki potensi bencana alam sehingga sistem peringatan dini sangat dibutuhkan.
“Kalau bisa kami dibantu tambahan sekitar lima alat agar bisa dipasang di wilayah barat dan tengah,” harap Sri Nadha.
Usulan penambahan alat pendeteksi tsunami sebenarnya sudah disampaikan ke Pemprov Bali. Namun, tingginya anggaran menjadi kendala. Satu alat pendeteksi tsunami membutuhkan biaya sekitar Rp 400 juta hingga Rp 500 juta can alatnya tidak tersedia di Indonesia.
Oleh Karena itu, BPBD Tabanan tidak memaksakan pengadaan tersebut. Apalagi pengadaan secara mandiri dana tidak mencukupi sehingga perlu adanya kolaborasi lintas pemerintah. Sambil menunggu realisasi usulan tersebut, BPBD Tabanan terus mengintensifkan sosialisasi dan simulasi penanganan bencana hingga ke tingkat desa.
