Gianyar –
Harga cabai bontok di Pasar Rakyat Gianyar, Bali, tembus Rp 100 ribu per kilogram (Kg). Tingginya harga cabai khas Bali itu dipicu kelangkaan stok hingga bencana banjir yang memicu gagal panen.
“Awalnya sekilo Rp 70 ribu. Paling mahal Rp 80 ribu. Sekarang per kg Rp 100 ribu,” kata Jero Sari, pedagang sembako di Pasar Rakyat Gianyar blok G, saat ditemui, Senin (9/3/2026).
Jero Sari mengatakan kenaikan harga cabai bontok sudah terjadi sejak awal Februari 2026. Hingga kini, hanya cabai bontok yang harganya masih tinggi. Sedangkan cabai merah, cabai rawit, dan cabai hijau tidak mengalami kenaikan harga.
Jero Sari mengaku omzetnya menurun akibat mahalnya harga cabai bontok. Sebelum harganya naik, pedagang itu mampu menjual setidaknya 10 kg per hari. Kini, saat harga tembus Rp 100 ribu per kg, dia hanya mampu menjual setengahnya saja.
“Biasanya saya habis (jual) 10 kg. Sekarang paling hanya 5 kg saja,” kata Jero Sari.
Menurutnya, kelangkaan stok cabai bontok turut menyumbang kenaikan harga. Bencana alam banjir di Bali, membuatnya terpaksa kulakan cabai bontok dari Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Komang Wintari setali tiga uang. Pedagang Pasar Rakyat di blok B itu juga menjual cabai bontok seharga Rp 100 ribu per kg.
“Masalah stok. Stoknya sedikit dan soal cuaca juga. Panen gagal,” kata Wintari.
Wintari mengatakan, kenaikan harga sembako tidak hanya terjadi pada cabai bontok. Minyak goreng, gula, dan sayur kol atau kubis, juga mengalami kenaikan harga.
Minyak goreng merk Minyak Kita per dus seberat 12 kg, kini di harga Rp 210 ribu dari harga semula Rp 195 ribu. Sedangkan harga gula dan sayur kol, naik dua kali lipat.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar Anak Agung Gde Raka Suryadiputra mengatakan kenaikan harga itu sudah mekanisme pasar. Tidak ada yang dapat dilakukan untuk mencegah kenaikan harga bahan baku pangan itu.
“Itu sudah mekanisme pasar. Kami tidak bisa (serta merta) menurunkan harga, karena itu mekanisme pasar,” kata Suryadiputra.
Suryadiputra mengatakan beberapa bahan pokok sudah memiliki harga eceran tertinggi (HET). Dia mengeklaim belum ada bahan pokok di Gianyar yang melebihi HET.
“Sembako seperti beras dan lainnya itu nggak mungkin melebihi HET,” kata Suryadiputra.
Meski demikian, dia berujar, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gianyar berupaya menjaga kestabilan harga dengan memberi alternatif lain bagi masyarakat. Salah satunya dengan menggelar pasar murah di kantor Desa Pejeng pada Selasa (10/3) dan Pasar Semebaung dua hari berikutnya.
“Program pasar murah itu sudah kami adakan setiap hari besar (agama). Besok ada pasar murah di kantor Desa Pejeng. Dua hari lagi ada pasar murah di Pasar Semebaung,” pungkasnya.
