Denpasar –
Pergerakan harga emas Antam yang fluktuatif sudah terlihat sejak 2025. Kondisi itu dinilai terjadi karena tingginya permintaan tidak diimbangi dengan ketersediaan stok di pasaran. Akibatnya, sejumlah toko emas menawarkan alternatif produk dari merek lain yang kualitasnya setara.
Seperti Melati Gold Shop dan Toko Emas Pusaka di Denpasar, Bali. Sebagian konsumen mulai beralih ke emas merek lain.
“Tapi ada yang tetap maunya Antam. Ada yang realistis. Ada yang begitu lihat pricelist, carinya yang sesuai budget,” ujar staf Melati Gold Shop, Yoga, ketika ditemui, Rabu (4/2/2026).
Yoga mengatakan, toko biasanya menawarkan merek lain ketika stok Antam terbatas. Menurut dia, perbedaan hanya terletak pada merek, sementara kualitas emas tetap sama.
“Jadi, biasanya kita juga tawarkan ke produk-produk lain, padahal emasnya sama kok, cuma beda merek,” tambah Yoga.
Emas Antam sendiri diketahui sebagai merek emas dengan lisensi internasional. Sedangkan emas lain seperti UBS, Lotus, GBS, dan Simba berlisensi SNI (Standar Nasional Indonesia). Menurut Yoga, atas dasar faktor itulah yang membuat Antam menjadi incaran banyak konsumen.
“Sudah sejak September, Oktober (2025). Itu karena Antam sempat tidak mengeluarkan stok lagi. Terus keluar stok tapi cepat habis. Jadi ya tidak adanya stok, mempengaruhi (harga). Tapi dua bulan belakang ini, memang harga emas naik semua, bukan satu brand saja,” ujar Yoga.
Sementara itu, staf Toko Emas Pusaka, Rizky, menyebut pergerakan harga emas sempat mengalami penurunan signifikan selama beberapa hari terakhir.
“1×24 jam per tanggal 28 Januari pagi naik Rp 2,8 juta, besoknya turun Rp 150 ribu, kan udah tinggi, besoknya lagi turun lagi, turun lagi selama tiga hari berturut-turut itu,” jawab Rizky, Rabu.
Turunnya harga emas, kondisi tersebut tidak terlalu memengaruhi operasional toko. Aktivitas jual beli masih berjalan normal, meski daya beli masyarakat sedikit menurun.
“Toko tetap berjalan aja. Berapa pun beli ya beli. Misal kita hari ini jualan Rp 2,5 juta, kita dapet keuangan Rp 2,5 juta. Kita harus beli dengan harga itu, kalo beli besoknya malah jadi Rp 3 juta ya kami nggak dapet untung, rugi kan,” jelas Rizky.
Selain emas, Yoga juga menyoroti meningkatnya minat terhadap produk logam mulia lain, yakni fine silver. Menurut dia, harga fine silver kini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan dua hingga tiga tahun lalu.
“Sekarang harganya menyentuh per gramnya Rp 75.000. Kalau ada kenaikan emas, pasti ada kenaikan itu (fine silver),” imbuhnya.
