Masyarakat tradisional di sejumlah daerah di Nusantara memiliki tradisi mengunyah sirih pinang. Tradisi serupa juga dilakukan oleh sebagian besar masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bagi masyarakat Rote, tradisi sirih pinang tidak hanya menjadi kebiasaan turun-temurun. Melainkan sebagai bahasa budaya yang hidup dan sarat makna.
Sirih pinang hadir dalam hampir seluruh sendi kehidupan masyarakat Rote. Mulai dari penyambutan tamu, prosesi perkawinan adat, penyelesaian konflik, hingga percakapan santai di beranda rumah. Tradisi ini menjadi simbol keterbukaan, penghormatan, dan persaudaraan.
Sirih dan pinang, yang memiliki rasa serta karakter berbeda, disatukan dalam satu kunyahan. Secara simbolik, praktik mengunyah sirih pinang ini menggambarkan keberagaman yang disatukan untuk tujuan hidup bersama.
Nilai ini juga selaras dengan prinsip keagamaan yang mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekayaan yang harus dirawat dalam bingkai iman dan kasih. Di Rote, pesan tersebut tidak hanya diajarkan melalui ruang-ruang ibadah, tetapi dihidupi melalui tradisi sehari-hari.
Sirih pinang juga memainkan peran penting dalam penyelesaian konflik adat. Ketika pihak-pihak yang berselisih duduk bersama dan berbagi sirih pinang, tindakan itu menandakan kesediaan membuka hati, menurunkan ego, serta mencari jalan damai.
Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai religius seperti pengampunan, pertobatan, dan pemulihan relasi. Budaya dan agama berjalan beriringan, saling menguatkan tanpa meniadakan satu sama lain.
Bagi perempuan NTT, mengunyah sirih pinang bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Melainkan simbol identitas, penghormatan, dan ruang sosial yang mengikat relasi antarperempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Perempuan memegang peran strategis sebagai penjaga nilai-nilai adat dan keluarga. Sejak usia dewasa, para perempuan di NTT terbiasa membawa sirih pinang ke mana pun mereka pergi, ke kebun, ke rumah tetangga, hingga ke berbagai upacara adat.
Sirih pinang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, sekaligus penanda kedewasaan dan kearifan perempuan dalam memahami adat. Perempuan kerap berkumpul di beranda rumah atau di sela-sela aktivitas berkebun, mengunyah sirih pinang sambil berbincang.
Ruang ini menjadi wadah aman bagi perempuan untuk saling menguatkan, merawat solidaritas, dan membangun jaringan sosial. Anak-anak perempuan pun belajar dari kebiasaan ini, menyaksikan langsung bagaimana nilai kesantunan, penghormatan, dan kebersamaan dipraktikkan dalam kehidupan nyata.
Sirih pinang juga memiliki peran penting dalam berbagai ritus adat di NTT, termasuk perkawinan, penyambutan tamu, dan penyelesaian persoalan adat. Pada konteks ini, perempuan berperan sebagai penjaga tata cara penyajian sirih pinang yang tepat.
Cara menyusun dan menyuguhkan sirih pinang mencerminkan kehalusan budi, keterampilan sosial, serta penghormatan terhadap tamu dan leluhur. Sirih pinang biasanya disusun dalam satu rangkaian sederhana: daun sirih, buah pinang yang dipotong kecil, kapur, dan dalam beberapa komunitas ditambahkan tembakau.
Perpaduan bahan ini menghadirkan rasa khas, sekaligus mengandung nilai filosofis tentang keseimbangan, kebersamaan, dan kesabaran. Tradisi ini juga berfungsi sebagai sarana komunikasi sosial, tempat perempuan berbagi cerita, pengalaman hidup, serta nasihat lintas generasi.
Proses pemanenan buah sirih dilakukan secara manual, yakni dengan memetik langsung menggunakan tangan. Jika buah berada di ketinggian, masyarakat memanfaatkan alat bantu seperti tangga bambu atau jolok, yakni galah bambu panjang.
Sebagai tanaman merambat, sirih tumbuh mengikuti pohon yang menjadi tempat rambatannya dan dapat mencapai ketinggian lebih dari tujuh meter, tergantung pada jenis dan tinggi pohon penopangnya. Tanaman sirih umumnya dibudidayakan di sekitar lingkungan rumah.
Selain manfaat yang dipercaya terkandung dalam sirih pinang, praktik mengunyahnya juga dapat memunculkan reaksi tertentu pada sebagian orang. Individu yang tidak terbiasa atau memiliki daya tahan rendah kerap mengalami kondisi yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai mabuk sirih pinang.
Gejala yang dirasakan biasanya berupa kepala terasa ringan atau berputar, tubuh melemah, serta muncul keringat dingin. Dikutip dalam penelitian Arief, dkk. (2019), masyarakat Sobawawi, NTT, kondisi tersebut tidak selalu dipahami sebagai dampak biologis semata.
Selain dipengaruhi oleh kuatnya rasa dan kandungan sirih serta pinang, mabuk sirih pinang juga diyakini berkaitan dengan pelanggaran aturan adat atau pemali dalam proses pemanenan buah pinang. Kepercayaan ini berakar pada pandangan bahwa alam dan manusia harus dijaga keharmonisannya, termasuk dalam memperlakukan tanaman.
Terdapat tata cara khusus yang harus dipatuhi saat mengambil buah pinang dari pohonnya. Pemanen dianjurkan memanjat pohon secara lurus pada satu sisi batang ketika naik maupun turun. Memanjat dengan cara mengelilingi atau berputar pada batang dianggap tidak pantas dan dilarang dalam adat.
Selain itu, pohon pinang tidak boleh diperlakukan kasar, seperti ditendang dengan sengaja, karena diyakini dapat membawa dampak buruk. Apabila pantangan tersebut dilanggar, masyarakat percaya bahwa buah pinang yang dihasilkan dapat memicu ketidaknyamanan bagi orang yang mengonsumsinya.
Oleh karena itu, proses memanen pinang tidak hanya dipandang sebagai aktivitas fisik. Melainkan juga sebagai praktik yang sarat dengan nilai etika dan penghormatan terhadap alam.
Untuk mengatasi kondisi mabuk sirih pinang, masyarakat Sobawawi memiliki cara penanganan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah menjentikkan jari ke gigi atau yang dikenal dengan istilah dikuti sebanyak beberapa kali.
Selain itu, orang yang mengalami mabuk biasanya diberikan gula pasir untuk diisap. Hal itu dipercaya dapat meredakan efek tidak nyaman dan memulihkan kondisi tubuh secara perlahan.
