Tim Indonesia yang merupakan gabungan seniman dari Himpunan Seniman Pecatu (HSP) dan Bali Talent Artist (BTA) sukses meraih Juara 3 dalam kompetisi patung salju tingkat internasional di Harbin, China. Prestasi ini diraih dalam ajang bertajuk The 28th Harbin International Snow Sculpture Competition yang berlangsung 6 hingga 9 Januari 2026.
Mengangkat tema kearifan lokal Bali, tim memahat karya berjudul “Dewi Dewantari” sebagai perwujudan simbol kesuburan dan kesejahteraan alam semesta. “Dalam kepercayaan Hindu, Dewi Dhawantari itu adalah dewa kesuburan, untuk keseimbangan alam semesta,” ujar Koordinator Tim, Nyoman Sungada, kepada infoBali, Minggu (11/1/2026).
Patung setinggi 4 meter dengan diameter 3×3 meter tersebut menampilkan Dewi Dewantari yang menggenggam berbagai simbol. Di antaranya, daun pada tangan kanan yang melambangkan alam dan manusia tidak bisa lepas dari tumbuhan, serta guci berisi air suci (Tirtha Amertha) sebagai lambang keabadian.
“Tangan kiri tengah membawa cakra, yakni melambangkan perputaran kehidupan, terus tangan kiri bawah membawa bayi, melambangkan penciptaan bahwa segenap yang ada tidak bisa terlepas dari hidup dan mati,” jelas Sungada, merinci detail filosofi karya mereka.
Tim yang dipimpin oleh I Nyoman Sungada ini beranggotakan I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara Putra sebagai pematung, didukung oleh Made Gede Aryata (fotografer) dan I Wayan Mardina (peninjau). Persiapan yang memakan waktu tiga bulan, dimulai sejak Oktober 2025, termasuk mencari ide, pembuatan miniatur, dan latihan intensif menggunakan media styrofoam.
“Cara latihan kami di styrofoam yang skala kecil 1,5 meter kali 90 kali 90 cm sudah tentu harus ada konsep miniatur dulu. Dari situ kami pelajari dari mana kita harus memahat lebih awal dan skalanya berapa, dari miniatur itu, termasuk mempertimbangkan dari sisi mana kita bisa naik,” papar Nyoman.
Secara teknis, Nyoman Sungada menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara mengukir di media kayu, es, dan salju. Kayu dikenal keras dan membutuhkan waktu pengerjaan yang lama, sementara salju lebih lembut.
“Kalau es atau salju, salju pengerjaannya sangat lembut. Es agak lebih keras tapi tidak sekeras kayu. Hambatannya adalah suhu yang sangat dingin,” jelas Nyoman.
Kompetisi ini melibatkan 25 tim dari 13 negara dengan total 100 seniman, di mana kriteria penilaian mencakup tema, kreativitas, artistic expression, dan technical Skill. Salah satu tantangan terbesar adalah suhu ekstrem di Harbin yang berada di rentang minus 14 hingga minus 26 derajat Celsius per hari.
“Sudah tentu sangat bahagia walaupun hanya juara 3, tapi taraf internasional sudah menjadi kebanggaan tersendiri. Selain itu kami dapat saling bertukar budaya lewat pahatan salju dan juga dapat pembelajaran dari masing-masing negara karena mereka membawa seni, budaya, dan bahasa yang berbeda,” kenang Nyoman.
Demi Pengembangan Seni Patung Indonesia
Konsistensi tim mengikuti kompetisi salju internasional, seperti di Harbin, didorong oleh motivasi untuk mengembangkan pengetahuan seni rupa. Selain itu, ajang ini juga menjadi platform untuk mengenalkan budaya Bali di kancah global.
“Saya ingin pengetahuan tentang seni rupa khususnya seni patung berkembang, ingin seni kebaruan. Apa sebab, karena seni internasional itu sangat beragam. Mereka datang dari budaya yang beda, bahasa yang beda, jadi dengan event ini, kami dapat pergaulan antarbangsa, sekaligus kita dapat mengenalkan budaya Bali lewat seni pahatan,” ungkap Sungada.
Mengenai regenerasi seniman patung salju, Sungada optimistis dengan lebih seringnya keikutsertaan tim dalam acara global dan membawa seniman-seniman baru, minat terhadap seni ukir salju akan meningkat. Namun, faktor pendanaan menjadi kendala utama.
“Kalau saja ada sumber dana yang tetap bisa mendanai keikutsertaan kita dalam event ini, sebenarnya masih banyak seniman yang mau ikut. Banyak seniman usul ke saya untuk bisa ikut kompetisi ini,” tegas seniman asal Pecatu, Kuta Selatan itu.
Raihan Juara 3 ini menambah panjang daftar prestasi internasional tim yang digawangi Nyoman Sungada. Sebelumnya, mereka pernah meraih Juara 1 di Nayoro, Jepang (2018), The Best Skill di Harbin, China (2020), dan berbagai penghargaan lainnya.
Berikut Daftar Prestasi Tim I Nyoman Sungada (2013-2025):
– Harbin China: Juara 3 (2013)
– Sapporo Jepang: Juara 3 (2013)
– Harbin China: The Best Skill (2015)
– Harbin China: Juara 3 (2017)
– Nayoro Jepang: Juara 1, Artist Choice Award (2018)
– Nayoro Jepang: Juara 3 (2020)
– Harbin China: The Best Skill (2020)
– Harbin China: Juara 3 (2024)
– Harbin China: Commemorative Prize (2025)
