Pantai Cemagi di Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, dipenuhi sampah kiriman. Material sampah didominasi batang kayu berukuran besar serta bambu yang hanyut dari wilayah utara hingga menumpuk di pesisir pantai berpasir hitam tersebut.
“Sudah banyak sampah terkirim dari hulu, dari utara sampai ke sini, seperti kayu-kayu yang besar, bambu dan lain sebagainya,” kata anggota Desa Wisata Cemagi, Made Mulyana, Kamis (15/1/2026).
Fenomena sampah musiman ini dilaporkan secara terus-menerus setiap hari sejak Desember 2025. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung mengerahkan petugas dan armada truk untuk membantu proses pembersihan maupun pengangkutan sampah di pantai itu.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala UPT Pengelolaan Persampahan dan Lingkungan Hidup Wilayah Petang-Abiansemal, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung, I Komang Ardyana, menjelaskan pembersihan dilakukan secara rutin setiap pagi. Petugas kebersihan bertugas di sepanjang bibir Pantai Cemagi hingga Pantai Pererenan.
“Kami turun tiap harinya kira-kira mulai jam 07.30 Wita. Personel yang dikerahkan kurang lebih ada sekitar 50 orang per hari yang dibagi dalam beberapa tim di bawah pengawasan mandor,” ujar Ardyana saat ditemui di lokasi.
Ardyana menyebut proses evakuasi sampah kiriman tersebut memakan waktu sekitar tiga jam setiap harinya. Penggunaan tenaga manual menjadi alasan durasi pembersihan tidak bisa dipaksakan lebih lama, terlebih jika kondisi cuaca di pesisir tidak mendukung.
Fenomena sampah musiman ini, Ardyana berujar, didominasi material kayu, bambu, hingga sampah plastik. Dalam sehari, volume sampah yang berhasil dikumpulkan dari bibir pantai bisa mencapai satu ton atau setara dengan dua truk dump.
“Kalau dikalkulasi, dua truk dump itu kami hasilkan untuk pengumpulan sampahnya. Khusus untuk sampah plastik, ada pihak yang ambil, yang lebih banyak mengambil bagian itu,” imbuhnya.
Sampah-sampah yang sudah terkumpul kemudian ditampung sementara di tempat penampungan sementara di Cemagi. Nantinya, sampah itu diangkut menggunakan alat berat menuju Pusat Daur Ulang (PDU) Mengwitani dan sebagian lainnya yang tak bisa diolah untuk dibuang ke TPA Suwung.
“Kendalanya cuaca, kemudian kalau ombak gede (besar), alat berat tidak bisa lewat ke sini. Padahal kalau tidak ada kendala, setiap hari ada ekskavator dan alat CC untuk mempermudah pekerjaan kami,” tambahnya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Ardyana memprediksi fenomena sampah kiriman ini akan berlangsung cukup lama, yakni sekitar enam bulan ke depan. Sampah-sampah ini mayoritas terbawa arus dari area hulu sungai dan pantai.
“Rata-rata ini sampah dari sungai, dari hulu Sungai Yeh Penat. Alirannya itu dari Blahkiuh semuanya bermuara ke mari. Tahun ini fenomenanya agak berubah, sepertinya (kedatangan sampah) agak mundur dari jadwal biasanya,” pungkas Ardyana.
