Denpasar –
Kelangkaan gas LPG 3 kilogram atau gas melon kembali terjadi di Bali. Politikus asal Bali, I Gusti Putu Artha, mengaitkan kondisi tersebut dengan dugaan maraknya praktik pengoplosan gas yang disebut berlangsung di tiga wilayah, yakni Tabanan, Badung, dan Gianyar.
Dalam unggahan di akun media sosial pribadinya, ia melampirkan bukti video lokasi pabrik gas oplos itu. Ia bahkan sempat mendokumentasikan aktivitas di dalam pabrik tersebut dari jauh.
Artha menjelaskan jika dirinya telah melaporkan aktivitas ini ke Polda Bali sejak 3 September 2025. Namun, belum ada respons.
“Jadi dokumen saya itu terdiri dari kajian sekitar 3 halaman baik dari sisi tingkat kerugian pajak negara, keuntungan mereka, jumlah gas yang dioplos dan hasil lengkap sampai bagaimana modus operandi gas itu,” kata Artha kepada, Sabtu (7/2/2026).
Artha membagi ada dua pihak yang terlibat yakni agen resmi dan unsur preman. Ia juga menduga adanya keterlibatan pihak kepolisian dalam kasus ini.
Menurut sumber yang dimiliki Artha, salah satu pelaku mengaku menyetorkan uang sebesar Rp 350 juta per bulan ke Jakarta.
Setelah semua bukti ia lampirkan ke Polda Bali, Artha kembali mendatangi tiga lokasi tersebut. Ternyata ada yang sudah tidak beroperasi dan diduga pindah tempat.
Kabid Humas Polda Bali Kombes Ariasandy menyampaikan pihaknya telah mengecek lokasi yang diduga menjadi pabrik oplos gas.
“Tempat sesuai video pada postingan media sosial Facebook tersebut adalah bekas TKP pengoplosan gas LPG yang sebelumnya dilakukan penindakan oleh Satreskrim Polres Gianyar,” kata Ariasandy.
Ariasandy menjelaskan bahwa kondisi di lokasi tersebut saat ini terbengkalai yang dibuktikan dengan keadaan banyak rerumputan dan sampah-sampah daun.
“Dari pencocokan video sesuai postingan pada media sosial Facebook dengan kondisi saat ini dipastikan video tersebut adalah video lama pada saat sebelum dilakukan penindakan berupa penggerebekan dan penangkapan oleh Satreskrim Polres Gianyar yang saat ini baru diposting kembali,” jelas Ariasandy
