Sumba Barat Daya –
Pria bernama Agustinus Radu Lota (32) dibacok oleh lima orang hingga tewas saat sedang menonton Pasola di lapangan Sekolah Dasar (SD) Masehi Kori, Desa Kori, Kecamatan Kodi Utara, Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (28/1/2026). Lima pelaku pembacokan adalah Rofinus Rangga (41), Marsel Rangga (32), Jhoni Rangga (28), Mikael (25) dan Radu Bungsu (26).
“Ya kejadiannya sekitar pukul 17.00 Wita saat korban menonton Pasola. Korban meninggal di TKP (tempat kejadian perkara),” ujar Kepala Seksi Hubungan Masyarakat (Kasi Humas) Polres SBD, AKP Bernardus Mbili Kandi, kepada, Jumat (30/1/2026).
Bernardus menuturkan pembacokan itu bermula saat Agustinus bersama temannya, Dominggus Gheru Kaka (24), sedang melintasi SD Masehi Kori dan melihat banyak orang sedang latihan Pasola. Mereka kemudian tertarik untuk menonton.
Agustinus kala itu memilih menonton dari pinggir jalan, tepatnya di depan Kantor Camat Kodi Utara. Sedangkan, Dominggus menonton dari atas tribune. Tak berselang lama, Dominggus melihat Rofinus Rangga memukul Agustinus dengan sebatang kayu di bagian kepalanya.
Hal itu membuat Agustinus langsung berusaha melarikan diri. Namun, Marsel Rangga mengejarnya lalu membacoknya di bagian kepala sebanyak satu kali. Saat bersamaan, Jhoni Rangga yang sedang menunggangi kudanya langsung memukulnya dengan lembing hingga tersungkur.
Setelah terjatuh, Marsel bersama Jhoni, Mikael, dan Radu langsung membacoknya secara membabi buta di sekujur tubuhnya hingga Agustinus tewas di TKP.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
“Pada saat kejadian, teman korban (Dominggus) sempat teriak agar para pelaku menghentikan perbuatannya, tetapi mereka tak hiraukan dan terus-menerus membacok korban,” tutur Bernardus.
Setelah membacok Agustinus, para pelaku tersebut langsung melarikan diri. Sedangkan, Dominggus juga memilih pulang ke rumahnya di Kampung Kalembu Bendu, Desa Kalembu Bendu, Kecamatan Kodi Utara, menggunakan jasa ojek.
“Kalau pelaku belum bisa diamankan karena masih bersembunyi dan sedang dalam pengejaran,” jelas Bernardus.
