Niluh Djelantik Dorong Anak Muda Terlibat Tangani Sampah Bali

Posted on

Denpasar

Permasalahan sampah di Bali kembali mendapat sorotan dari Anggota DPD RI asal Bali, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik. Ia menilai pemerintah daerah belum maksimal melibatkan potensi sumber daya manusia (SDM), khususnya anak muda Bali, dalam upaya penanganan sampah.

Menurut Niluh, banyak anak muda Bali yang memiliki kemampuan dan ide untuk mengatasi persoalan sampah. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dirangkul oleh pemerintah.

“Banyak yang punya kemampuan. Rangkul mereka. Masih banyak solusi,” ungkap Niluh Djelantik kepada saat ditemui di Gedung Aula Kedokteran Universitas Dhyana Pura, Jumat (6/2/2026).

Ia menilai persoalan sampah di Bali dapat ditangani apabila pemerintah mau turun tangan langsung dan membuka diri terhadap berbagai masukan. Menurutnya, fokus utama seharusnya bukan pada siapa yang menyelesaikan masalah, melainkan bagaimana persoalan tersebut diselesaikan.

“Tujuannya untuk melayani. Nggak masalah siapa yang mau nyelesakan urusan sampahnya,” ujarnya.

Niluh juga menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap pola penanganan sampah yang hanya memindahkan sampah dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Ia menilai cara tersebut tidak menyelesaikan masalah, melainkan sekadar memindahkan beban.

“Bukan akhirnya dioper ke Temesi (Gianyar) kita tolak. Dioper ke Landih (Bangli) kita tolak. Ya pasti kita tolak dong,” katanya.

Menurut Niluh, Pemprov Bali sebenarnya memiliki banyak pilihan solusi jika mau berkolaborasi dengan berbagai pihak. Ia menegaskan keterbatasan anggaran seharusnya tidak menjadi alasan untuk berhenti mencari jalan keluar.

“Sampaikan kepada semua duta besar yang ada di Indonesia. Pasti disiapkan. Kalau kita mau, kalau kita memang solution-oriented, berpatokan kepada solusi,” ujar Niluh.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki keahlian di bidangnya agar penanganan sampah dapat dilakukan lebih cepat. Namun, ia mengingatkan kolaborasi hanya bisa berjalan jika pemimpin memiliki sikap terbuka dan mau mendengarkan.

“Kita duduk bareng dengan semua orang yang punya kealian. Buat ini Mbok Niluh bisa memfasilitasi. Tapi dengan satu syarat, punya kuping, jangan yang tipis, baperan. Punya hati yang melayani,” tandasnya.