Denpasar –
Lebaran identik dengan berbagai kudapan dan penganan yang menggugah selera. Salah satu kue kering yang kerap hadir saat momen Lebaran adalah nastar. Rasanya kurang afdal jika kue berisi selai nanas ini tidak ada di atas meja.
Nastar biasanya menjadi camilan ringan saat menyambut tamu yang berkunjung ke rumah. Meski bisa dibuat di dapur masing-masing, kini sebagian warga memilih untuk membeli nastar di toko.
Bahan pembuatan nastar sendiri terdiri dari tepung terigu, margarin, selai nastar, dan kuning telur. Kue kering ini ternyata merupakan warisan kuliner atau hasil akulturasi dengan budaya Belanda.
Simak ulasan mengenai sejarah kue nastar di Indonesia seperti dirangkum dari berbagai sumber berikut ini.
Sejarah Kue Nastar di Indonesia
Pada abad ke-7, para pembuat roti di Persia secara tidak sengaja menyisihkan adonan untuk dijadikan bahan kalibrasi suhu oven. Ternyata hasilnya cukup enak. Hal itulah yang kemudian menjadi cikal bakal kue kering.
Perdagangan di Asia daratan hingga Eropa membuat kue kering menjadi lebih menyebar dan dinikmati banyak kalangan dari bangsawan hingga rakyat biasa. Nastar berasal dari Belanda dan dikenal dengan nama ananas taartjes atau pineapple taart, yang berarti pie nanas dalam ukuran mini.
Karena itu, adonan nastar tidak memerlukan proses pengocokan atau pengadukan yang terlalu kuat. Popularitas nastar meningkat sejak abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Awalnya, nastar hanya dikonsumsi oleh kalangan Eropa di Nusantara. Pada hari-hari tertentu seperti Natal, mereka berbagi bingkisan dengan bangsawan lokal.
Sejak itu, masyarakat di Nusantara mulai menikmati olahan berbahan terigu dan selai nanas ini. Bangsa Eropa mendorong masyarakat warga pribumi untuk mengikuti kebiasaan makanan Barat. Momen berbagi makanan saat hari raya terus berlanjut hingga sekarang, terutama saat Lebaran.
Beragam Variasi Kue Nastar Masa Kini
Saat ini, berbagai inovasi varian nastar bermunculan. Mulai dari bahan, isi, hingga bentuknya menjadi lebih beragam. Bahkan, ada pula yang berinovasi dengan mengganti tepung terigu menjadi tepung singkong dan menambahkan bubuk daun kelor.
Isian dari nastar pun bukan hanya selai nanas. Belakangan, isian nastar menggunakan selai apel, selai mangga, pasta durian, coklat, keju, hingga kurma dan pasta matcha. Isian nastar kekinian ini bisa menjadi bahan eksperimen dalam membuat nastar di rumah.
Selain isiannya yang variatif, bentuk nastar juga makin beragam. Mulai dari bentuk buah-buahan, bunga-bungaan, hingga bentuk hewan seperti ulat dan bebek. Bentuk-bentuk ini membuat nastar kerap menarik perhatian anak-anak, terutama saat Lebaran.
