Denpasar –
Hubungan antara Iran dengan negara-negara Eropa semakin memanas. Kini, Iran mendeklarasikan tentara negara-negara Eropa sebagai kelompok teroris. Hal itu sekaligus menjadi balasan atas sikap Uni Eropa yang melabeli Korps Garda Revolusi Islam dengan sebutan yang sama.
Dilansir dari, televisi pemerintah menayangkan anggota parlemen Iran yang mengenakan seragam hijau Garda sebagai bentuk solidaritas. Mereka juga meneriakkan ‘Matilah Amerika! Matilah Israel! Memalukan kalian, Eropa.’
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan sikap tersebut sesuai dengan Pasal 7 Undang-Undang tentang Tindakan Balasan Terhadap Deklarasi IRGC sebagai Organisasi Teroris. Meski demikian, masih belum jelas apa dampak langsung dari keputusan tersebut.
Undang-undang tersebut pertama kali disahkan pada 2019. Kala itu, Amerika Serikat mengklasifikasikan Garda sebagai organisasi teroris.
Sidang sesi legislatif diadakan pada Minggu (1/2/2026). Momen tersebut bertepatan dengan peringatan ke-47 kembalinya almarhum Ayatollah Ruhollah Khomeini dari pengasingan yang mendirikan republik Islam pada tahun 1979.
Diketahui, Garda Nasional adalah sayap ideologis militer Iran yang bertugas melindungi revolusi Islam dari ancaman eksternal dan internal. Pemerintah Barat menuduh mereka sebagai dalang di balik penindakan terhadap gerakan protes yang menewaskan ribuan orang baru-baru ini.
Di sisi lain, Teheran mengaitkan kekerasan tersebut sebagai tindakan teroris yang didalangi AS dan Israel. Uni Eropa pun telah memasukkan badan tersebut sebagai ‘organisasi teroris’ atas tanggapan terhadap protes tersebut pada Kamis lalu.
Langkah ini serupa dengan yang diberlakukan oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Ghalibaf mengatakan keputusan tersebut ‘yang dilakukan sesuai dengan perintah presiden Amerika dan para pemimpin rezim Zionis, mempercepat jalan Eropa menuju ketidakrelevanan dalam tatanan dunia masa depan’.
Tanggapan Teheran terhadap protes tersebut mendorong Presiden AS Donald Trump untuk mengancam akan campur tangan. AS mengirimkan kelompok kapal induk ke wilayah tersebut. Namun, dalam beberapa hari terakhir, kedua pihak bersikeras bahwa mereka tetap bersedia untuk berdialog.
Trump juga mengkonfirmasi dialog sedang berlangsung. Namun, dia tidak menarik kembali ancaman sebelumnya.
. Baca selengkapnya di sini!
