Gianyar –
Mantan Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata meninggal dunia. Bharata wafat pada usia 76 tahun di RSUD Sanjiwani, Gianyar, pukul 13.36 Wita pada Sabtu (21/2/2026). Upacara palebon untuk almarhum akan digelar pada 7 Maret mendatang.
“Mantan Bupati Gianyar Anak Agung Gde Agung Bharata mengembuskan napas terakhir di RSUD Sanjiwani,” kata Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, dalam keteranganya, Minggu (22/2/2026).
Mayun mengungkapkan Bharata telah menjalani perawatan di RSUD Sanjiwani sejak sebulan lalu. Selama dirawat, kondisi Bharata yang bergelar Ida Begawan Blebar itu sempat membaik.
Namun, kondisi kesehatan mantan bupati Gianyar periode 2003-2008 dan periode 2013-2018 itu kembali menurun. Bharata kemudian dilarikan ruang ICU RSUD Sanjiwani.
“Sempat diperbolehkan pulang ke puri karena kondisi membaik. Namun, (kondisi kesehatan) beliau kembali menurun dan harus dilarikan lagi ke rumah sakit,” kata Mayun yang juga adik dari almarhum Bharata.
Mayun mengatakan Bharata menjalani perawatan kali kedua selama beberapa hari di RSUD Sanjiwani. “Keluarga telah berupaya maksimal selama proses perawatan,” imbuhnya.
Semasa hidupnya, Bharata pernah menjabat sebagai staf di Sekretariat Negara. Ia juga pernah menjadi kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring pada periode 1997-2003.
Setelah menuntaskan pengabdian sebagai bupati Gianyar dua periode, Bharata memilih jalan spiritual. Kesehariannya lebih banyak diisi dengan penyucian diri, mendalami Weda, serta menjalani konsep wanaprastha dalam Hindu.
“Beliau memantapkan diri menapaki jalan sebagai begawan hingga akhir hayat. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdian beliau sebelum akhirnya memimpin Kabupaten Gianyar,” ujar Mayun.
Mayun menuturkan upacara palebon atau pembakaran jenazah Bharata akan dilakukan di Setra Beng pada 7 Maret mendatang. Adapun, rangkaian upacaranya dimulai dengan prosesi mesiram dan melelet pada 3 Maret.
Dua hari sebelum puncak palebon atau pada 5 Maret, dilaksanakan prosesi munggah ngaskara lan ngaturan ayaban. Sebagai seorang sulinggih, prosesi pelebon almarhum Bharata akan menggunakan sarana padma dan lembu putih.
“Kepergian Ida Begawan Blebar bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar puri, tetapi juga bagi masyarakat Gianyar. Sosok pemimpin yang menutup perjalanan hidupnya dengan pengabdian spiritual itu kini dikenang sebagai figur yang ajeg menjaga dharma, baik dalam tugas pemerintahan maupun dalam laku suci,” imbuh Mayun.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
