Buleleng –
Bisnis parsel atau hampers mulai kebanjiran pesanan menjelang Hari Raya Idulfitri yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Salah satunya diakui Rizky Elisia Sandra, pemilik usaha hampers di Lovina, Singaraja, Buleleng, Bali.
Perempuan yang akrab disapa Kiki itu mengaku pesanan hampers meningkat drastis sejak memasuki bulan Ramadan. Pemilik usaha Nayaka Seserahan itu semula hanya melayani pesanan seserahan. Namun, dia melihat peluang menjual parsel begitu memasuki bulan Ramadan.
“Ramadan dan menjelang Nyepi pesanan seserahan agak sepi, saya coba buka parsel. Ternyata minatnya besar sekali,” kata Kiki saat ditemui di Buleleng, Minggu (8/3/2026).
Kiki membuka dua tema parsel sekaligus tahun ini, yakni untuk Ramadan dan Nyepi. Hal itu karena waktu perayaan dua hari besar keagamaan itu berdekatan.
“Ini gabung temanya Ramadan sama Nyepi karena waktunya mepet. Jadi sekalian buka dua tema,” imbuh Kiki.
Hingga saat ini, pesanan parsel yang masuk sudah mencapai sekitar 120 paket. Kiki bahkan masih membuka pemesanan hingga 10 Maret mendatang.
Pesanan tersebut datang dari berbagai kalangan, mulai dari warga sekitar hingga instansi. Menurut Kiki, ada pula pembeli yang memesan dalam jumlah banyak sekaligus.
“Kadang satu orang bisa pesan sampai 20 parsel. Ada juga dari instansi buat kolega,” imbuhnya.
Kiki menyesuaikan permintaan pelanggan untuk isian parsel. Umumnya, parsel berisi makanan hingga perlengkapan ibadah atau sembahyang.
“Kalau untuk Muslim biasanya mukena atau sajadah. Kalau untuk Nyepi bisa isi perlengkapan sembahyang,” tutur Kiki.
Harga parcel yang ditawarkan juga cukup variatif. Paket paling kecil dibanderol mulai Rp 80 ribu, sementara paket spesial dijual mulai Rp 200 ribu tergantung isian. Kiki juga mendapat permintaan parsel dengan anggaran hingga Rp 1 juta.
“Kami ambil untung sedikit saja, yang penting laris. Sekalian juga membantu orang berbagi di bulan Ramadan,” ujarnya.
Meski permintaan parsel tinggi, Kiki juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam mencari bahan baku. Beberapa perlengkapan seperti keranjang parsel bahkan harus didatangkan dari Pulau Jawa.
“Keranjang harus order dari Jawa. Plastik pembungkus juga susah dicari di Singaraja, kadang harus sampai Surabaya atau Jakarta,” kata Kiki.
“Kalau sudah musim seperti ini, rebutan barangnya. Pengiriman juga kadang overload,” imbuhnya.
